Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Legenda Panji - Kediri, Jawa Timur |
Kisah Panji dikenal dengan beragam versinya dan berbeda-beda pula penuturan ceritanya, namun sebenarnya terdapat tema yang sama dan menjadi ciri utama dari berbagai tuturan kisah Panji. Tema itu tentang cerita asmara antara puta mahkota kerajaan janggala (Kahuripan) dengan putri kerajaan Panjalu (Kadiri) yang beribukotakan di Daha. Dalam kisah Panji diuraikan suasana masyarakat dan juga kerajaan-kerajaan yang berkembang di wilayah Jawa (Timur) dan Bali, jadi tidak bertutur perihal lingkungan istana dan pedesaan yang jauh di tanah India.
Begitupun mengenai penyajiannya P.J. Zoetmulder menyatakan:
Bentuk kakawin dan bahasa Jawa Kuna merupakan saluran tradisional bagi kisah-kisah yang berangkal pada epos-epos India dan purana-purana, tetapi bentuk kidung dan bahasa jawa Pertengahan secara ekslisif dipakai untuk menyajikan kisah-kisah Panji. Sepengetahuan saya tidak ada satu kakawin pun yang menampilkan kisah Panji, sedangkan di lain pihak kidung-kidung yang menyajikan sebuah tema dari India, jarang sekali terdapat. (Zoetmulder 1983:532-3)
Banyak ciri yang menandai bahwa Kisah Panji sebenarnya adalah narasi khas Jawa zaman Majapahit, jadi bukan saduran atau petikan dari epos-epos India yang telah dikenal sebelumnya. Apabila diuraikan satu persatu butir-butir penanda karya kejawaan pada kisah-kisah Panji antara lain sebagai berikut:
1. Kerangka cerita yang merupakan gubahan asli yang sebelumnya tidak pernah dikenal, bahwa ada putri-putri raja yang telah dipertunangkan kemudian menghilang dari istana, dan mereka saling mengembara untuk akhirnya bertemu kembali
2. Tokoh-tokoh merupakan ciptaan baru, bukan kisah para ksatrya dari epos India. Menurut Zoelmulder tokoh-tokoh ksatrya itu bukannya ksatrya-ksatrya India yang bergerak di alam Jawa, melainkan ksatrya dari keraton-keraton jawa sendiri yang berperanan dalam Kisah pandi (1983:534)
3. Nama-nama tokoh juga memakai nama khas Singhasari-Majapahit (abad ke-13-15 M), antara lain dengan menggunakan sebutan hewan seperti lembu, undakan (kuda), gajah, kebo (kerbau), mahesa dan lain-lain yang juga dikenal dalam karya sastra sezaman lainnya (Poerbatjaraka 1968:406)
4. Uraian tentang kehidupan keraton-keraton di Jawa, keraton yang penting adalah Koripan atau Kahuripan (Disebut pula Janggala atau Keling), Daha (Kadiri atau juga Mamenang), Gegelang di Wilayah Urawan, dan Singhasari. Semua itu adalah keraton-keraton yang pernah ada di Jawa pada zamannya, jadi bukan perihal keraton Hastinapura, Dvarawati, atau Indraprastha yang terletak di India
5. Nama-nama tempat, pertapaan, daerah, negara, gunung, sungai dan nama geografis lainnya juga berlokasi di Jawa, bahkan beberapa diantaranya masih dapat dikenali hingga sekarang.
Demikianlah beberapa butir yang menandai bahwa Kisah Panji itu hasil karya pujangga Jawa, bukannya aturan atu pengembangan cerita dari epos India. Para ahli bersepakat bahwa kisah Panji adalah hasil karya orang Jawa yang menguraikan tentang perilaku para raja dan keluarganya dari kerajaan-kerajaan yang ada di Jawa sendiri (Poerbatjaraka 1957 & 1968, Rasser 1982, Zoetmulder 1983, Seiman 1978, Baried dkk. 1987). Kisah itu demikian terkenalnya sehingga menyebar ke luar dari daerah asalnya, seperti ke Bali, Lombok, Palembang, Banjarmasin, Malaka, bahkan hingga ke kamboja (Khmer) dan Thailand.
Mengenai waktu terjadinya cerita Panji, terdapat perbedaan pendapat di antara dua ahli terkemuka yang telah menelaah cerita tersebut, yaitu C.C. Berg dan RM.Ng. Poerbatjaraka . Menurut Berg tahun penyebaran dan sekitar tahun 1400 M sebagai batas akhir penyebarannya. Menurut Poerbatjaraka jika pendapat Berg seperti itu maka secara logis tahun penciptaan cerita Panji terjadi sebelum tahun 1277 M, artinya Berg menganggap bahwa pada waktu terjadi Pamalayu, cerita Panji sudah ada dan dikenal oleh masyarakat (Poerbatjaraka 1968:403).
Poerbatjaraka menolak pendapat Berg, ia mengemukakan pendapatnya setelah memperhatikan dan menyetujui kesimpulan W.F. Sutterheim tentang pemahatan fragmen relief cerita Panji dari daerah Gambyok Kediri. Menurut Stutterheim relief tersebut mestinya berasal dari sekitar tahun 1400 M, kesimpulan Stutterheim itu disetujui oleh Poerbatjaraka (1968:408).
Kemudian berdasarkan pendapat Stutterheim itu Poerbatjaraka menyatakan bahwa awal timbulnya cerita Panji adalah pada masa Majapahit, menurutnya: Redaksi yang mula-mula pastilah disusun pada zaman kedjajaan (atau masa kedjajan kemudian Madjapahit). Karena penulisan cerita Pandji menurut pendapat kami, baru terjadi kemudian, maka penjebarannya ke seluruh nusantara djuga baru terdjadi djauh kemudian (1968:409)
Masa Kejayaan Majapahit berarti dalam era pemerintahan raja Hayam Wuruk antara tahun 1350-1389 M, sedangkan masa kejayaan kemudian mengacu kepada periode raja pengganti Hayam Wuruk, yaitu Wikramawardhana (1389-1429 M). Dalam masa itulah agaknya cerita Pandji yang mula-mula mulai digubah, kemudian berangsur-angsur menjadi terkenal di wilayah majapait bahkan dipahatkan dalam bentuk relief di dinding candi-candi. Dalam masa yang lebih kemudian barulah kisah-kisah Panji itu menyebar ke luar tanah Jawa hingga ke Asia tenggara daratan. (dikutip dari : Aris Munandar Universitas Indonesia-2012)
Beberapa sub cerita Panji diantaranya adalah:
a. Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji
b. Dewi Angreni
c. Dewi Songgolangit
d. Ande-ande Lumut
e. Panji Laras
f. Keong Mas dll