Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaBha’bung/Musik Bambu - Kab. Sampang, Jawa Timur
Sejarah: Musik ini konon sudah lama dikenal masyarakat, namun sekarang tinggal ada satu kelompok yang memainkan musik ini. Menurut penuturan informan musik ini pernah populer di Sampang. Musik ini semua peralatannya berasal dari bambu, bahkan yang berfungsi sebagai senar atau dawai juga berasal dari bambu. Dawai dibuat dari kulit bambu dan tidak boleh putus. Musik Bak Beng ini konon digunakan sebagai media dakwah dalam Agama Islam. Lagu-lagu yang dinyanyikan lagu-lagu yang bernafaskan Islami, namun dalam perkembangannya juga dipakai untuk mengiringi lagu daerah Madura. Masyarakat dengan mudah memanggil dan memberikan julukan dengan sebutan Mbah Beng karena mereka sering melihat dan mendengar beliau sering memainkan alat musik yang terbuat dari bambu dengan mengeluarkan bunyi “plak plok pak beng - plak plok pak beng” Deskripsi: Musik ini secara pasti masih belum diketahui secara pasti siapa yang menciptakan, karena pada jaman dahulu di seluruh pelosok wilayah Sampang hampir seluruhnya “meng-claim” bahwa musik Bak Beng berasal dari daerah mereka. Alat musik Bhak Beng ini terbuat dari bambu yang berukuran ± 1,2 m dengan berdiameter ±15 cm. Alat musik ini ada yang berfungsi sebagai gitar dan bass. Untuk dawai itu berasal dari bambu, tidak boleh dari kulit bambu lain, karena yang dipakai adalah bambu yang sama yang berfungsi sebagai badan. Oleh karena itu dalam pembuatannya harus sangat hati-hati karena juka putus dalam membuat irisan untuk dawai berarti bambu itu sudah tidak bisa digunakan lagi. Bagian-bagian dari alat musik Bak Beng ini memiliki nilai filosofi, diantaranya : - Pamokolan, yaitu stick / pemukul yang memiliki makna Allah swt (Tuhan YME) - Keplak, yaitu ketukan yang memiliki makna Muhammad Rasulullah - Leres Perreng, yaitu dawai dari “kulit bambu” yang memiliki makna aqidah - Bambu, yaitu bentuk bambu keseluruhan, yang memiliki makna Tiang Agama Musik ini digunakan sebagai media dakwah Agama Islam sehingga lirik-lirik lagu yang dinyanyikan berbahasa Arab dan Madura yang isinya tentang ajaran agama untuk kehidupan ummat manusia. Saat ini kondisi keberadaan musik Bhu’beng sangat memprihatinkan sebab tinggal satu kelompok musik yang masih memainkannya. Renegerasi pemain dan pembuat alat musik ini belum tampak / belum ada. Kolompok musik itu saat ini berada di Dusun Magedan, Kelurahan Polagan, Kecamatan Sampang, Sampang, dibawah pimpinan H. Hadhori yang juga menjadi salah satu pemain musik itu, serta menjadi pelatih.