Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaUpacara Nan’dai - Kab. Sampang, Jawa Timur
Sejarah: Di dalam masyarakat Jawa berkembang tradisi yang berkaitan dengan kehamilan. Di beberapa daerah kehamilan seorang ibu akan ditandai dengan berbagai upacara atau selamatan. Tujuan diadakannya selamatan bagi ibu yang sedang hamil adalah agar kehamilan itu lancar dan sehat, bayi yang dikandung beserta ibunya selalu dalam lindungan Yang Kuasa. Kehamilan bagi masyarakat Sampang juga menjadi moment yang harus ditandai dengan upacara. Di Sampang ada upacara yang bernama Upacara Nan’ dai yakni sebuah rangkaian dalam upacara Pelet Kandhung (upacara kehamilan). Apabila seorang ibu di Madura mulai mengandung, akan diadakanlah Upacara Nan’ dai, yaitu upacara untuk memberi kesaksian bah-wa seorang ibu telah mulai mengandung. Upacara nandai ini mulai diadakan pada waktu kandungan berusia satu bulan, hingga kandungan berumur sembilan bulan. Deskripsi: Di dalam masyarakat Jawa berkembang tradisi yang berkaitan dengan kehamilan. Di beberapa daerah kehamilan seorang ibu akan ditandai dengan berbagai upacara atau selamatan. Tujuan diadakannya selamatan bagi ibu yang sedang hamil adalah agar kehamilan itu lancar dan sehat, bayi yang dikandung beserta ibunya selalu dalam lindungan Yang Kuasa. Kehamilan bagi masyarakat Sampang juga menjadi moment yang harus ditandai dengan upacara. Upacara Nan’ dai adalah rangkaian salah satu tahap dalam upacara Pelet Kandhung (upacara kehamilan). Upacara pelet kandhung dimaksudkan supaya si ibu selama mengandung selalu sehat, sedangkan bayi yang dikandungnya, juga se¬hat dan selamat sampai waktu dilahirkan. Apabila seorang ibu di Sampang, Madura mulai mengandung, maka akan diadakanlah Upacara Nan’ dai, yaitu upacara untuk memberi kesaksian bah¬wa seorang ibu telah mulai mengandung. Upacara nandai ini mulai diadakan pada waktu kandungan berusia satu bulan, hingga kandungan berumur sembilan bulan. Pada bulan pertama, dilakukan upacara nandai, yang ditunjukkan de¬ngan meletakkan Bigilan yaitu buah nangka (dalam bahasa Jawa: beton) di atas sebuah leper, tatakan cangkir. Bigilan yang diletakkan di atas leper itu jumlahnya selalu bertambah, sesuai dengan hitungan kandungan sang Ibu. Jadi untuk bulan pertama satu biji, bulan kedua, menjadi dua biji, sampai bulan ke sembilan seluruhnya berjumlah sembilan biji. Di meja terletak leper dengan biji Bigilan, juga ter¬dapat sebuah cawan yang berisi bunga Komkoman, yaitu bu¬nga yang terdiri dari bermacam-macam jenis, direndam dalam air. Bunga Komkoman ini tidak lain bunga rampai (bermacam-macam) bunga yang diren¬dam. Benda-benda itu dimaksudkan sebagai sesaji dalam upacara Nan’dai. Pada saat kehamilan memasuki bulan ketujuh, pelaksanaan upacara dihadiri oleh saudara-saudara dekatnya yang datang dari desa sekitarnya. Ketika usia kandungan sudah masuk bulan ketujuh, maka diselenggarakan upacara Pelet Kandhung atau Pelet Betteng.