Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaTradisi Mandi Massal - Kab. Sampang, Jawa Timur
Sejarah: Tradisi Mandi Massal di Sumur Dung-Dung dipercaya sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Warga masyarakat Sampang, Madura, Jawa Timur. Tradisi ini terkait dengan agama Islam yang menjadi agama mayoritas yang dianut warga Madura. Tradisi Mandi Massal dilakukan untuk menyambut atau memperingati Nisfu Syakban atau dua pekan menjelang Ramadan. Dalam rangka menyambut atau memasuki Nisfu Syakban warga kalurahan Banyuanyar melakukan tradisi unik, yakni menggelar syukuran dengan nasi tumpeng dan juga melakukan mandi massal di sumur tua desa setempat. Acara tradisi mandi massal tersebut digelar di Sumur Dung-Dung, Kampung Sumur Dung-Dung, Kelurahan Banyuanyar, Kabupaten Sampang, Jawa Timur. Tradisi ini untuk membersihkan diri menyambut hari Nisfu syakban. Deskripsi: Tradisi Mandi Massal di Sumur Dung-Dung dipercaya sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Warga masyarakat Sampang, Madura, Jawa Timur. Tradisi ini terkait dengan agama Islam yang menjadi agama mayoritas yang dianut warga Madura. Tradisi Mandi Massal dilakukan untuk menyambut atau memperingati Nisfu Syakban atau dua pekan menjelang Ramadan.Pada saat melakukan Tradisi Mandi Massal di Sumur Dung-Dng, masyarakat setempat, khususnya laki-laki, mandi bersama-sama untuk mendapatkan khasiat air sumur tersebut. Mereka meyakini air sumur bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit apabila dilakukan saat pertengahan bulan Syakban. Untuk melaksanakan Tradisi Mandi Massal tidak ada batasan usia. Akan tetapi, untuk menjaga aurat maupun fitnah, kalangan perempuan dilarang ikut serta. Sementara itu para perempuan meminum air. Bukan hanya diminum di lokasi, kalangan perempuan mengambilnya untuk dibawa pulang ke rumah. Bagi perempuan, air sumur tersebut dipercaya bisa melancarkan kehamilan dan persalinan. Tentu saja kepercayaan ini tidak mengabaikan kehendak Sang Kuasa sebagai penguasa alam semesta yang menentukan nasib manusia. Pada saat yang sama di musala kecil di samping sumur juga dilaksanakan syukuran berupa pemotongan nasi tumpeng. Nasi kemudian kemudian dibagikan kepada sesepuh desa dan kiai setempat.