Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Wedhak Ripih - Nganjuk, Jawa Timur |
Upacara Adat Wedhak Ripih merupakan bagian dari upacara adat perkawinan yang masih tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat Jawa di Nganjuk, khususnya di daerah pedesaan. Upacara Adat Wedhak Ripih ini termasuk dalam budaya sebagian lisan, sehingga dalam perkembangannya mengalami perubahan dan perbedaan yang disebabkan oleh perbedaan situasi, kondisi, maupun domisili dimana masyarakatnya tinggal. Pelaksanaan Upacara Adat Wedhak Ripih sedikit demi sedikit juga mengalami perubahan tata cara.
Lazimnya masyarakat Jawa yang senang menyingkat atau menggabungkan dua kata dengan mengurangi sebagian suku kata (tembung garba), maka kata Wedhak Ripih sering disingkat menjadi Dhak Ripe. Adapula yang menyebutnya Wedhak Paripih, yang berarti wedhak pangarip-arip, wedhak uripe, dan ada pula yang menyebutnya Tedhak Paripih, yang berarti tedhak pangarip-arip, tedhak uripe. Menurut keterangan narasumber, Upacara Adat Wedhak Ripih ini tidak dapat ditentukan dengan pasti asalnya. Sejak dahulu kala upacara tersebut sudah ada.
Adapun arti dan makna dari kata-kata tersebut diatas dapat disimpulkan kurang lebih sebagai berikut:
1.Wedhak Ripih (paripih=mblonyoh), artinya melumuri badan dengan ramuan bedak dari tepung temu giring yang berwarna kuning keputih-putihan, atau sekarang disebut bedak mangir. Pada malam manggulan ini calon pengantin putri badannya dilumuri bedak dengan dihibur dan dinasehati menggunakan kata-kata yang halus.
2.Wedhak Pangarip-arip (arip = terasa mengantuk sekali), artinya pada malam manggulan diadakan tirakatan atau berjaga semalam suntuk (wungon) sambil menanti datangnya wahyu jodoh yaitu berupa kembar mayang sekar adhi manca warna, kalpataru, dewandaru, jayandaru, dengan mengundang para sesepuh, pinisepuh, dan kerabat-kerabatnya.
3.Wedhak Uripe (urip = hidup), dalam hal ini wedhak merupakan bahan rias untuk mempercantik wajah, sehingga wedhak uripe (ripih) dapat dimaknai memperindah hidup atau membangun hidup baru yang cerah untuk masa depan, dengan tujuan membangun keluarga sejahtera lahir batin dunia akhirat.
4.Tedhak Paripih (tedhak = turun, mudhun; paripih = jimat, wahyu), berarti menanti datangnya wahyu jodoh yaitu berupa kembar mayang sekar adhi manca warna, kalpataru, dewandaru, jayandaru.
5.Tedhak Pangarip-arip, artinya berjaga semalam suntuk sambil berdoa memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar dalam pelaksanaan upacara perkawinan esok hari berlangsung lancar tanpa halangan suatu apapun.
6.Tedhak Uripe, artinya mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa agar setelah melangsungkan perkawinan, kedua mempelai memperoleh berkah kehidupan yang sejahtera.
Upacara Adat Wedhak Ripih dilaksanakan pada malam midodareni setelah selamatan tumuruning wahyu jodho, yaitu kembar mayang yang sering disebut sekar adhi manca warna, kalpataru, dewandaru, jayandaru, pada malam manggulan sebelum upacara panggih. Pada malam midodareni (malam manggulan), calon pengantin putri mulai dirias (dialub-alubi), artinya mulai mendesain rias wajah (nglakari). Selanjutnya menjelang pukul 23.00 atau 24.00 dilaksanakan Upacara Panebusing Kembar Mayang Winangun dan dilanjutkan upacara selamatan. Setelah itu baru dilaksanakan Upacara Wedhak Ripih.
Upacara Adat Wedhak Ripih diselenggarakan sebagai tolak bala karena pada malam tersebut para pinisepuh, sesepuh, pembantu (peladen), terutama yang punya hajat mengadakan tirakatan (wungon) bersama, guna memohon berkah agar seluruh rangkaian pelaksanaan hajatannya besok berlangsung lancar tanpa halangan apapun. Di samping itu, upacara ini memberikan hiburan bagi para peladen sekaligus memberi tempat bagi mereka mengekspresikan rasa gembira dengan menari-nari diiringi karawitan, karena telah berhasil mempersiapkan upacara perkawinan yang akan dilaksanakan esok hari. Sesuai dengan tujuannya sebagai tolak bala, maka saat Upacara Wedhak Ripih, semua peladen yang menari wajahnya diolesi bedak sebagai lambang tolak bala.
Tahapan Upacara Adat Wedhak Ripih yang dilaksanakan setelah Upacara Panebusing Kembar Mayang Winangun, dimulai dari salam pembuka oleh pembawa acara, kemudian musik pengiring mengalun mengiringi keluarnya bapak dan ibu pemangku/pemilik hajat menuju tempat upacara. Selanjutnya iring-iringan para peladen keluar dengan membawa ubarampe (sesaji), dipimpin oleh seorang pujangga, dilanjutkan acara membakar dupa dengan diiringi sekar macapat dhandanggula. Ujub selamatan disampaikan oleh pembawa acara, diteruskan doa oleh pujangga. Kemudian para peladen dengan disaksikan oleh para pinisepuh, pemangku hajat, dan dipimpin oleh pujangga menari bersama mengelilingi ruangan depan kamar tengah sebanyak tiga kali dengan iringan gending (Golo Ganjur, Kodhok Ngorek, Jaranan, dan Nganjuk Mranani).