Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaWayang Timplong - Nganjuk, Jawa Timur
Wayang Timplong merupakan kesenian wayang khas Nganjuk yang hanya dipentaskan untuk keperluan-keperluan khusus, seperti Nyadranan (bersih desa), Murwatan, melepas nadar, atau acara di tempat keramat tertentu. Wayang Timplong kini nasibnya sangat memprihatinkan. Pada masa jayanya dahulu, Wayang Timplong bisa pentas 5-8 kali dalam sebulan. Namun kini, seiring makin langkanya tradisi-tradisi dilakukan, kesenian ini juga sangat jarang ditanggap orang. Menurut sejarahnya, Wayang Timplong yang berada di Desa Jetis Kecamatan Pace ini diciptakan oleh Mbah Boncol, yang sekaligus juga sebagai dalangnya. Profesi Mbah Boncol ini kemudian dilanjutkan oleh anak cucunya secara turun temurun. Menurut dokumentasi Dinas Kebudayaan kabupaten Nganjuk terdapat penjelasan lain tentang asal mula nama wayang timplong dimulai pada saat pementasan oleh Eyang Sariguno untuk yang pertama kali inilah seluruh penonton terpukau dan sangat kagum sehingga keadaan sangat tenang (tintrim), sedang mata selalu memandang pada gerak gerik wayang, yang dalam bahasa jawa disebut "mlolong". Berawal dari kata-kata bahasa jawa tintrim dan mlolong ini lama kelamaan menjadi sebutan nama timlong atau timplong. Pementasan wayang ini mengalami masa kejayaan pada tahun 1940-an karena pada masa itu, wayang dipentaskan selain sebagai hiburan, juga merupakan protes sosial terhadap para penjajah secara tersirat. Wayang ini dinamai timplong karena bunyi peralatan gamelannya yang "pating ketimplong" atau saling susul menyusul sehingga menimbulkan bunyi "plong plong". Wayang Timplong merupakan jenis wayang yang terbuat dari kayu, berbentuk pipih, dan tangannya terbuat dari kulit. Wayang Timplong berjumlah kurang lebih 100 buah, dan dilengkapi pula dengan gunungan yang terbuat dari burung merak dan golekan, yang biasanya dimainkan di awal dan akhir pertunjukan. Untuk menancapkan wayang digunakan batang pisang, dilengkapi dengan layar/geber di kanan dan kiri dalang. Ukuran geber biasanya 2,5 – 3 meter, berwarna kuning yang ditepinya diberi lipatan berwarna hitam dan hiasan. Peralatan gamelan sesuai aslinya hanya terdiri dari 6 macam, yaitu gendang, gambang 3 buah, kenong, dan sebuah gong. Selanjutnya pada tahun 1990 dilakukan renovasi terhadap iringan Wayang Timplong ini, tanpa meninggalkan unsur aslinya. Musik gamelannya ditambah 3 macam, yaitu gender barung, saro barung, dan siter. Gamelan tersebut digunakan untuk mengiringi 4 gending yang merupakan ciri khas Wayang Timplong, yaitu: 1. Gending Awe-awe, yang digunakan saat menampilkan golekan jenis wanita pada awal pertunjukan. 2. Gending Grendel, untuk mengiringi saat jejeran (musyawarah kerajaan, pemberian wejangan, perintah kerja kepada punggawa kerajaan). 3. Gending Ladrang, dimainkan untuk mengiringi situasi peperangan. 4. Gending Prahap atau penutup, untuk mengiringi tarian golekan sebagai tanda berakhirnya pagelaran. Ide cerita Wayang Timplong banyak berkisah tentang Kerajaan Kediri, Jenggala, Majapahit, Babad Tanah Jawi, serta berasal dari legenda ada di daerah-daerah tertentu. Dengan demikian, lakon/cerita Wayang Timplong menjadi terbatas dan lebih sedikit bila dibandingkan dengan lakon wayang kulit. Wayang Timplong memiliki sekitar 24 lakon, diantaranya Barun Klinting, Kudawaris, Joko Slewah, Sarukrama/Dewi Kasihan, Panji Mirap Miring, Salikin, Lukin dan Salikun, Jaka Suwarno, Tejalengkawa, Darupati, Jaka Umbar, Gandakusuma, Mlaya Kusuma, Sumoyuda, Endang Larajuwita, Lembu Amiluhur, Gandek Mantri Anom, Dewi Galuh, Syah Kasan, Bujangganong, Jaka Sundang, Begawan Kilasarupa, Begawan Gunawasesa, dan Begawan Ngarit dan Kedrah. Dari ke-24 lakon tersebut secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi 3 jenis, yaitu: 1. Jenis lakon Kasepuhan, yang menceritakan tentang seseorang yang mencari ilmu atau kaweruh. Berisi banyak nasehat atau wejangan dari guru/begawan kepada muridnya. 2. Jenis lakon Perkawinan, menceritakan tentang suka duka mencari jodoh dan kemudian diakhiri dengan hidup bahagia sebagai suami dan istri. 3. Jenis lakon Kelahiran, bercerita tentang peristiwa kelahiran seseorang atau keturunan raja.