Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaTradisi Kurasan Sumber Umbul - Madiun, Jawa Timur
Masyarakat Dusun Umbul, Desa Glonggong, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun, Provinsi Jawa Timur setiap satu tahun sekali tepatnya setiap tanggal 1 Muharram/Suro menyelenggarakan tradisi kurasan sumber umbul. Tradisi tersebut diselenggarakan di kawasan wisata umbul dan telah berlangsung sejak zaman dahulu. Dalam tradisi tersebut masyarakat melakukan ritual nyekar di punden umbul yang merupakan petilasan Ki Ageng Nerang Kusumo dengan melakukan selamatan sebagai wujud syukur kepada Sang Pencipta dengan membawa hasil bumi serta melakukan kurasan sumber. Keberadaan sumber umbul menurut cerita yang berkembang di masyarakat sekitar umbul bahwa dahulu ada seorang pertapa yang bernama Ki Ageng Nerang Kusumo yang datang dari Kediri bertandang ke Ngurawan (sekarang Madiun) untuk melamar seorang putri di Ngurawan. Ki Ageng Nerang Kusumo ini merupakan seorang putra raja Kediri. Niatnya untuk melamar seorang putri di Ngurawan tersebut mendapat penolakan. Setelah lamarannya ditolak beliau tidak langsung kembali pulang ke Kediri melainkan melakukan pertapaan dibeberapa tempat di Ngurawan. Salah satu tempat yang dijadikan pertapaan Ki Ageng Nerang Kusumo muncul sumber air belerang, air tersebut muncul dari permukaan tanah. Maka dari itu tempat tersebut kemudian diberi nama Umbul yang diambil dari sejarah munculnya air tersebut yang mumbul dari permukaan tanah. Rangkaian prosesi dalam tradisi kurasan sumber umbul meliputi nyekar di punden/petilasan Ki Ageng Nerang Kusumo, pemberian sesaji, sedekah bumi, malam tirakatan, dan puncak acaranya adalah menguras sumber umbul. Pelaksanaan nguras sumber dilakukan dengan secara simbolis mengambil air sumber yang kemudian dimasukan ke sebuah wadah. Selain itu dalam beberapa waktu tertentu juga akan dilakukan kurasan dengan menguras sebagaian air yang ada di kolam sumber hingga beberapa meter dan dilakukan pembersihan di sekitar are sumber. Pelaksanaan tradisi kurasan sumber juga mengalami pasang surut. Pada tahun 1990-an tradisi kurasan sumber umbul sempat mengalami kevakuman dan pada tahun 2013 tradisi kurasan sumber umbul mulai diselenggarakan kembali. Pelaksanaan kembali tradisi kurasan sumber umbul pada tahun 2013 mengalami perkembangan dimana kegiatan tersebut melibatkan banyak unsur masyarakat mulai dari tokoh sesepuh Umbul, tokoh masyarakat, tokoh agama, Dinas Pariwisata, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, lembaga pendidikan, mahasiswa, perangkat desa dan masyarakat. Jalannya upacara meliputi kirab budaya, kirab pusaka, kirab tumpeng, ruwatan, seni karawitan, nyekar punden/petilasan Ki Ageng Nerang Kusumo dan ditutup dengan kurasan sumber umbul. Setiap tahunnya terdapat minimal 7 tumpeng besar yang setelah selesai acara kirab budaya, tumpeng tersebut menjadi rebutan oleh peserta kirab dan masyarakat. Setelah acara ritual kurasan sumber umbul selesai, masyarakat mengambil air dari sumber belerang tersebut yang mereka percayai bisa menyembuhkan penyakit kulit. Sebelum pelaksanan prosesi 3 hari sebelum acara diadakan acara bersih-bersih di sekitar area punden/petilasan Ki Ageng Nerang Kusumo dan area sumber air umbul. Acara bersih-bersih tersebut dilaksanakan oleh sesepuh dan masyarakat Umbul. Dan pada malam 1 Muharram/ 1 Suro dilaksanakan “pagar-pagar” agar pelaksanaan prosesi dikeesokan harinya berjalan dengan lancar. Pada malam tersebut para sesepuh mengadakan selamatan dan prosesi pemberian sesaji di punden/petilasan Ki Ageng Nerang Kusumo serta di area sumber air umbul. Selamatan tersebut dilaksanakan pada pukul 24.00 WIB hingga menjelang matahari terbit. Maksud dan tujuan dari pelaksanaan tradisi kurasan sumber umbul adalah merupakan wujud kepedulian dari masyarakat dalam melestarikan tradisi dan menjadi keberkahan bagi masyarakat sekitar Umbul maupun masyarakat Kabupaten Madiun pada umumnya.