Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaJamasan Pusaka Sewulan - Madiun, Jawa Timur
Masyarakat Desa Sewulan yang ada di Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun, Provinsi Jawa Timur hingga saat ini masih menyelenggarakan jamasan pusaka dan setelah selesai jamasan, pusaka-pusaka tersebut akan dikirab keliling Desa Sewulan. Desa Sewulan merupakan desa yang diyakini menjadi awal mula berkembangnya agama Islam di Madiun yang dibawa oleh Kiai Ageng Basyariyah. Jamasan pusaka merupakan prosesi memandikan pusaka-pusaka yang biasanya dilaksanakan pada bulan Sura/Muharram. Dalam ritual jamasan pusaka di Desa Sewulan beberapa pusaka peninggalan dari Kyai Basyariyah juga akan dijamasi. Pusaka dari peninggalan Kiai Basyariyah antara lain tombak, keris, songsong (payung) dan lampit (tikar). Pusaka-pusaka tersebut merupakan hadiah atas keberhasilannya dalam memenangkan peperangan. Saat akan kembali ke Ponorogo Bagus Harun (Kiai Basyariyah) mendapatkaan hadiah berupa tanah kamardikan, payung songsong, dan lampit atau tikar yang terbuat dari rotan. Namun saat Kiai Basyariyah sampai di Ponorogo, Kiai Basyariyah malah membuang payung songsong dan juga lampit ke kedung bang pluwang karena mendapat firasat bahwa jika tetap akan dibawa pulang nantinya benda-benda tersebut akan membuat anak cucunya memikirkan hal-hal duniawi. Dan Kiai Ageng Basyariyah pun ditegur oleh gurunya yaitu Kiai Muhammad Besari bahwa ia harus mencari payung dan lampit tersebut karena jika tidak ketemu maka beliau tidak boleh membabat tanah kamardikan. Kiai Ageng Basyariyah kemudian mencari payung dan lampit yang telah dibuangnya. Dan Kiai Basyariyah baru berhasil menemukan benda-benda tersebut pada malam Lailatul Qadar saat itu. Dalam ritual jamasan tersebut pusaka-pusaka tersebut kemudian dicuci dengan menggunakan warangan. Warangan adalah larutan kimia yang terbuat dari perpaduan jeruk nipis dan serbuk batu warang. Kandungan zat asam daalam bahan tersebut berfungsi untuk melarutkan kotoran-kotoran yang menempel pada permukaan bilah keris atau benda peninggalan lainnya agar benda pusaka tersebut tidak cepat rusak dan berkarat. Setelah dilakukan jamasan pusaka milik Kyai Ageng Basyariyah kemudian dikirab dari lapangan Desa Dagangan menuju halaman masjid Al-Basyariyah. Kirab pusaka tersebut diikuti dengan puluhan gunungan tumpeng berupa hasil bumi berupa sayur dan buah-buahan perwakilan dari desa-desa yang ada di sekitar wilayah Kecamatan Dagangan. Setelah digelar doa bersama, gunungan tersebut kemudian diperebutkan oleh masyarakat yang hadir. Jamasan pusaka dilaksanakan di pendopo ex perdikan Sewulan. Bersamaan dengan jamasan pusaka tersebut dilokasi yang sama juga digelar dengan pameran pusaka. kegiatan kemudain dilanjutkan dengan ziarah ke makam Kiai Ageng Basyariyah yang ada di kompleks Masjid Al-Basyariyah Sewulan.