Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Cerita Rakyat Air Terjun Rara Kuning - Nganjuk, Jawa Timur |
Desa Bajulan terletak di wilayah Kecamatan Nganjuk, lebih kurang 23 km arah selatan pusat Kota Nganjuk. Desa ini cukup terpencil, dipisahkan olah kawasan hutan dengan desa terdekat yang ada di sebelah utaranya. Namun karena potensi alamnya yang indah dan udaranya segar, maka desa yang semula sepi tersebut sekarang menjadi ramai dikunjungi orang.
Desa Bajulan memiliki kawasan hutan pinus yang indah, sungai yang jernih airnya, dan sejumlah air terjun yang sangat menarik untuk dinikmati keindahannya. Di kawasan hutan Bajulan bagian selatan, didapati beberapa air terjun. Lebih ke selatan lagi dengan melewati jalan setapak menuju ke atas, akan ditemui air terjun dengan ketinggian yang berbeda-beda. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat Nganjuk, nama-nama air terjun yang ada di kawasan Bajulan ini erat kaitannya dengan cerita Kerajaan Daha (Kediri) saat diperintah Sri Aji Jayabaya.
Konon ceritanya, Dewi Sekartaji dan Panji Asmorobangun menemani pelarian kakaknya yaitu Dewi Kilisuci yang menolak dipersunting seorang raja, dan memilih melarikan diri ke tengah hutan di lereng Gunung Wilis. Sesampainya di tengah hutan, Dewi Sekartaji menderita sakit. Kemudian Dewi Kilisuci pergi mencari obat untuk adiknya tersebut. Namun dalam perjalanannya kembali, Dewi Kilisuci terperosok dan tidak berhasil bertemu dengan adiknya lagi.
Dewi Sekartaji yang sakit ditemani oleh Panji Asmorobangun. Selang beberapa saat Dewi Sekartaji sembuh dari sakitnya. Ketika hendak mencari kakaknya, Dewi Sekartaji dan Panji Asmorobangun tersesat di kawasan lereng Gunung Wilis sebelah timur, hingga mendekati Desa Bajulan.
Seperti halnya Dewi Kilisuci, Dewi Sekartaji dan Panji Asmorobangun ketika tersesat juga menemukan sebuah air terjun (grojogan) yang indah dengan ketinggian sekitar 4-5 meter. Di tempat tersebut mereka tidak mendapat godaan. Akhirnya mereka menetap di tempat itu hingga akhir hayatnya. Air terjun yang konon pernah ditempati oleh Dewi Sekartaji dan Panji Asmorobangun tersebut terkenal dengan nama Air Terjun Roro Kuning.
Air Terjun Roro Kuning berada di ketinggian 600 m dpl dan memiliki tinggi antara 10-15 m. Air terjun ini mengalir dari tiga sumber dari Gunung Wilis yang mengalir merambat di sela-sela bebatuan padas di bawah pepohonan hutan pinus. Kemudian menjadi air terjun yang membentuk trisula. Dan karena proses mengalirnya itulah maka masyarakat Desa Bajulan menamakan air terjun merambat.
Di sekitar lokasi air terjun ini juga bisa dijumpai Air Terjun Ngunut setinggi ± 55 m, Air Terjun Pacoban Ngunut setinggi ± 95 m dan Air Terjun Pacoban Lawe setinggi ± 75 m. Jarak dari air terjun Roro Kuning menuju air terjun Pacoban Ngunut sekitar 4 km. Sedangkan untuk Coban Lawe dan Air Terjun Ngunut, harus berjalan kurang lebih 3 km lagi. Untuk menuju ke tiga air terjun tersebut sebaiknya mempersiapkan fisik sebelum kesana, karena jalannya cukup terjal.
Selain keindahan alam, air terjun Roro Kuning juga memiliki nilai sejarah. Di sekitar lokasi ini terdapat monumen perjuangan Panglima Besar Jenderal Sudirman. Monumen ini dibangun untuk mengenang perjuangan Jenderal Sudirman saat memimpin perang gerilya melawan Belanda pada tahun 1949. Selain menumen, di tempat ini juga terdapat sebuah rumah sangat sederhana yang pada masa perjuangan dahulu sempat ditempati Pak Dirman selama satu minggu. Karena itulah selain menikmati keindahan alam, pengunjung air terjun Roro Kuning juga bisa sekaligus mengenang perjuangan Panglima Besar Sudirman.