Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaTradisi Bancaan Sumur Kawak - Sragen, Jawa Tengah
Tradisi bancaan atau sedekah bumi yang diselenggarakan di sekitar sumur kawak konon merupakan peninggalan Walisongo. Menurut penuturan warga pada zaman dahulu ada seorang wali yang melewati Dusun Jetak untuk menyebarkan agama Islam. Pada saat beliau menyebarkan agama Islam tersebut diketahuilah bahwa di Dusun Jetak belum ada sumur. Wali tersebut kemudian menghantamkan tongkat ke tanah kemudian jadilah sebuah sumur yang kemudian diberi nama sumur kawak. Air dari sumur kawak tersebut kemudian oleh masyarakat Dusun Jetak dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti mandi, cuci, masak dan minum serta mengaliri sawah. Sumur kawak merupakan sumur yang tidak seperti sumur lainnya. Sumur tersebut berbentuk persegi dengan dinding sumur tersusun atas batu bata kuno berukuran besar, sumur juga dilengkapi dengan tempat untuk meletakkan sesaji. Tradisi bancaan di sumur kawak dilaksanakan satu tahun sekali setelah panen. Terkait dengan tradisi bancaan yang ada di sumur kawak terdapat beberapa rangkaian kegiatan. Beberapa kegiatan yang dilakukan dalam rangka tradisi sumur kawak antara lain tahlilan dan slametan dengan makan bersama. Tahlilan dilaksanakan disekitar sumur kawak yang ada di Dusun Jetak Tani, Desa Duyungan, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Sragen.Kegiatan tahlilan dilaksanakan setiap malam Jumat Kliwon dengan melantunkan doa dan membacakan surat-surat pendek. Pelaksanaan tahlilan dipimpin oleh seorang ustad. Dalam acara tahlilan tersebut para ibu-ibu juga membawa makanan yang telah dipersiapkan dari rumah. Makanan yang dibawa tersebut antara lain nasi uduk beserta lauk pauknya dan ingkung. Makanan tersebut kemudian diletakkan di tengah-tengah warga yang mengikuti tahlilan, mereka duduk secara lesehan. Setelah acara tahlilan selesai kemudian dilanjutkan dengan bancaan atau makan bersama berupa nasi uduk dan ubarampenya yang mereka bawa dari rumah tadi. Tradisi bancaan sumur kawak ini telah ada sejak zaman dulu sebelum Islam masuk. Dulunya bancaan tersebut ditujukan kepada para dhanyang, setelah Islam masuk tradisi mengalami perkembangan yaitu sebagai wujud syukur atas rejeki yang telah diberikan oleh Tuhan YME berupa hasil panen yang telah diterima. Warga kemudian membawa makanan untuk dibawa ke sumur kawak untuk didoakan dan dimakan bersama. Tujuannya adalah untuk slametan dan bisa berkumpul bersama.