Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Upacara Adang Tahun Dal - Surakarta, Jawa Tengah |
Keraton Kasunanan Surakarta memiliki banyak tradisi maupun ritual-ritual. Salah satu tradisi unik yang di Keraton Kasunanan Surakarta adalah tradisi Adang Tahun Dal. Tradisi Adang Tahun Dal adalah tradisi menanak nasi yang dilakukan sendiri oleh Raja (Sinuhun) dengan dibantu oleh para kerabat istana. Proses dalam adang tersebut menggunakan sebuah dandang yang bernama Dandang Kyai Duda yang diyakini sebagai peninggalan Joko Tarub dan kendil (periuk) yang bernama Nyai Rejeki. Dalam ceritanya Joko Tarub mempunyai istri seorang bidadari bernama Nawangwulan. Nawangwulan mempunyai kesaktian yaitu ketika menanak nasi hanya memerlukan setangkai padi saja dan dandang yang digunakan Nawangwulan untuk menanak nasi tersebut adalah Dandang Kyai Duda. Dandang Kyai Duda tersebut hingga sekarang masih tersimpan di Keraton Kasunanan Surakarta.
Perkawinan Joko Tarub (Ki Ageng Tarub) dengan Nawangwulan dikaruniai seorang putri yang kemudian diberi nama Nawangsih. Nawangsih setelah dewasa kemudian menikah dengan Raden Bondan Kejawen yang kemudian menggantikan kedudukan Ki Ageng Tarub dan bergelar Ki Ageg Lembu Peteng. Keturunan dari Ki Ageng Lembu Peteng inilah yang di yakini merupakan nenek moyang dari raja-raja Surakarta dan Yogyakarta.
Tradisi Adang Tahun Dal yang dilaksanakan oleh Keraton Kasunanan Surakarta ini memerlukan waktu yang cukup lama mengingat semua perlengkapan yang digunakan perlu dipersiapkan secara teliti. Perlengkapan yang digunakan selain dandang Kyai Duda dan kendil Nyi rejeki dibuat secara khusus dan hanya sekali pakai. Perlengkapan yang perlu dipersiapkan secara khusus tersebut antara lain kukusan, siwur, centong, penutup dandang (kekep) yang terbuat dari tanah liat serta tungku untuk menanak nasi juga dibuat baru. Penutup dandang (kekep) dibuat baru dengan menggunakan tanah liat yang diambil dari beberapa tempat yaitu Demak, Boyolali dan Selo. Kekep dibuat oleh abdi dalem yang bertugas membuat barang gerabah dan dalam pembuatannya pun disertai pula dengan berbagai upacara mulai dari mengolah tanah liat, membentuk hingga proses pembakaran.
Bahan-bahan yang digunakan dalam Adang Tahun Dal juga merupakan bahan pilihan. Beras sebagai bahan utama menggunakan beras berkualitas nomor satu yaitu wulu rojo lele. Air yang digunakan untuk menanak nasi juga diambil dari beberapa tempat yaitu dari Pengging, Mungup, Canawelang dan Jolotundo, sedangkan kayu bakar yang digunakan untuk memasak juga diambil dari beberapa tempat.
Prosesi atau jalannya upacara Adang Tahun Dal meliputi:
Satu hari sebelum pelaksanaan, semua peralatan dibersihkan. Dandang Kyai Duda dicuci dengan air buah masam serta air mawar dan kemudian diminyaki. Sementara para ulama yang ada di keraton secara terus menerus melantunkan doa memuji kebesaran nama Tuhan serta memohon keselamatan yang disertai dengan kepulan asap kemenyan.
Tanggal 11 Mulud, para abdi dalem termasuk para ulama keraton serta juru kunci dari makam-makam milik keraton hadir dan pada pukul 20.00 WIB, Sinuhun diiringi putra-putri Sinuhun tiba di dapur Gondorasan. Istri Sinuhun dan para tamu kehormatan juga turut hadir. Para petugas dan keluarga keraton memakai pakaian adat Jawa dengan warna putih. Sementara dandang Kyai Duda serta kendil Nyai Rejeki telah ditempatkan di atas tungku api abadi. Dandang Kyai Duda terus menerus diusapi dengan param, para ulama dan juru kunci secara terus menerus memanjatkan doa. Setelah beristirahat sejenak Sinuhun menuju tungku untuk membetulkan nyala api yang diikuti para putri Sinuhun secara bergantian. Putri Sinuhun juga bertugas memasukkan beras ke dalam dandang dan selama adang berlangsung Sinuhun dan putra-putrinya secara bergantian mengamati dandang Kyai Duda dan kendil Nyai Rejeki dan terus menerusi dikoyohi. Koyoh tersebut langsung diusapkan dengan tangan telanjang dan mereka tidak merasa panas meskipun air sudah mendidih. Pada pukul 24.00 WIB, Sinuhun diikuti beberapa putra kembali ke keraton, sedangkan yang lain tetap di Gondorasan menunggu hingga nasi matang. Setelah nasi matang kemudian digelar di tempat yang telah disediakan lalu dikipasi hingga dingin dan menjadi nasi pulen.
Tanggal 12 Mulud tahun Dal, pukul 11.00 WIB keluarga Sinuhun beserta para abdi dalem hadir di keraton. Sinuhun diiringi beberapa kerabat memasuki tempat upacara dan menempatkan diri di tengah-tengah. Didepan tempaat duduk Sinuhun telah tersedia meja panjang berisi piring serta nasi hasil adang semalam. Acara selamatan memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW pun dimulai. Adapun inti dari selamatan tersebut adalah pembacaan doa memuji kebesaran Tuhan, mengucapkan syukur atas karuniaNya serta memohon pahala dari Nabi Muhammad SAW. Setelah para ulama selesai membaca doa, Sinuhun kemudian mengambil satu centong dan ditaruh di atas piringnya yang diikuti oleh putri Sinuhun yang kemudian membagi-bagikan nasi kepada yang hadir untuk dilanjutkan acara makan bersama.
.