Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Tradisi Malem Selikuran Keraton Kasunanan Surakarta - Surakarta, Jawa Tengah |
Malam selikuran Keraton Kasunanan Surakarta merupakan salah satu tradisi yang telah dilaksanakan turun temurun sejak Pakubuwono IX. Sejarah panjang tradisi malam selikuran mengalami perkembangan seiring dengan nilai-nilai budaya yang berlaku di masyarakat sampai pada bentuknya seperti yang dilaksanakan oleh Keraton Kasunanan Surakarta sekarang ini. Malam selikuran berasal dari bahasa Jawa yang berarti malam ke 21. Malem selikuran adalah malam ke dua puluh satu dalam bulan ramadhan. Tradisi ini merupakan adaptasi ajaran Islam dalam kebudayaan Jawa yang merupakan ajaran Walisongo. Tradisi tersebut kemudian pada era Sultan Agung dikombinasikan dengan penanggalan Arab dan Jawa yang kemudian dilanjutkan oleh Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, Kadipaten Mangkunegaran, dan Kadipaten Pakualaman.
Tradisi yang dkembangkan oleh Sultan Agung adalah tradisi menyambut lailatul qadr, yang berisi ritual keagamaan dan digelar pada malam ganjil di 10 hari terkhir bulan ramadhan. Tradisi malem lailatul qadr ini kemudian disebut dengan tradisi malem selikuran.
Tradisi malem selikuran mengalami pasang surut, dan di Kasunanan Surakarta mulai dikembangkan kembali sejak Sri Susuhunan Pakubuwono IX dan berlangsung hingga saat ini. Tradisi malam selikuran pada era Pakubuwono X, dilakukan dengan pembacaan doa memohon keselamatan kepada Tuhan YME dengan ubarampe tumpeng 1000. Tradisi malam selikuran dilakukan dengan nasi tumpeng kecil yang terdiri dari nasi gurih, kedelai hitam, telur puyuh matang, cabai hijau, rambak dan mentimun yang diletakkan dalam takir (tempat nasi yang terbuat dari daun pisang) berjumlah seribu. Tumpeng seribu merupakan lambang sedekah raja kepada segenap rakyat dan mendatangkan keberkahan.
Upacara dilakukan di masjid Ageng Surakarta, setelah dibacakan doa, tumpeng kemudian dibawa oleh para abdi dalem dengan arak-arakan jalan kaki dengan menggunakan lampu (ting) menuju ke lapangan Sriwedari. Lampu ting sebagai simbol media yang mengingatkan pada keremangan malam ketika Rasulullah turun dari Jabal Nur seusai menerima wahyu. Beberapa unsur penting dalam tradisi malam selikuran adalah:
1. Gamelan, pelaksanaan tradisi malam selikuran Keraton Kasunanan Surakarta ditandai dengan adanya seperangkat gamelan yang menemani arak-arakan tumpeng 1000 dari halaman Kori Kamandhungan menuju masjid Ageng Surakarta.
2. Lampu ting yang merupakan lampu penerang mengiringi jalannya tradisi malam selikuran sejak dari keraton sampai di masjid Ageng Surakarta.
3. Tumpeng seribu yang melambangkan janji Allah SWT yang akan memberikan pahala kepada hamba-Nya yang ikhlas beribadah pada malam lailatul qadr.
4. Ancak Cantoka sebanyak 24 buah berada dibelakang barisan lampu ting. Ancak cantoka dapat diartikan sebagai jodang ukuran kecil yang berbentuk sepeti kodok terbuat dari besi dan kuningan. Dalam jodang tersebut berisikan takir-takir yang sudah diisi dengan tumpeng kecil beserta ubarampe berjumlah seribu.
Tradisi malam selikuran menyampaikan pesan-pesan moral dan keagamaan. Pesan ritual malem selikuran menunjukkan bahwa masyarakat Keraton Kasunanan Surakarta menjunjung tinggi pentingnya menjaga keselarasan antara manusia dengan Tuhan dan antara manusia dengan makhluk semesta (amemayu hayuning bawana) dengan berdasar pada semangat tauhid, moral dan akidah.