Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Pencak Sumping - Banyuwangi, Jawa Timur |
Atraksi Pencak Sumping dipentaskan sebagai bagian dari selamatan desa yang diperingati setiap Hari Raya Idul Adha. Atraksi Pencak Sumping, aksi bela diri Pencak Silat ditampilkan dengan iringan musik tabuh-tabuhan yang rancak. Aksi ini bisa ditampilkan oleh para pendekar anak-anak hingga lanjut usia dengan gerakan dan jurus-jurus silat, baik dengan tangan kosong maupun dengan senjata seperti pedang, tombak, clurit dan klewang.
Munculnya atraksi Pencak Sumping terkait dengan kisah berdirinya Dusun Mondoluko. Pada zaman penjajahan Belanda, Buyut Ido yang merupakan pemimpin cikal bakal Mondoluko yakni Dusun Tegal Alas, terluka dan tewas saat berduel dengan tentara Belanda. Sejak itu rakyat Tegal Alas berinisiatif untuk belajar pencak silat untuk bela diri.
Penamaan Pencak Sumping sendiri, terkait dengan suguhan yang tersaji pada jaman itu yang mengiringi para pendekar saat berlatih. Dahulu waktu para pria berlatih, ibu-ibu selalu menyiapkan kue sumping. Di manapun mereka berlatih, pasti suguhan yang keluar adalah sumping. Sumping adalah makanan khas terbuat dari pisang berbalut adonan tepung yang dikukus, dikenal juga dengan nama nagasari. Makanan ini menjadi suguhan kepada para tamu yang datang saat acara. Bahkan saat atraksi โduelโ dua pendekar silat, sumping juga digunakan untuk pengakuan kemenangan. Biasanya pemenang akan menyumpal mulut lawannya yang kalah dengan sumping.
Tradisi tahunan Pencak Sumping ini digelar beriringan dengan tradisi kenduri bersih desa (Ider Bumi) warga setempat. Selamatan ini berlangsung setiap Idul Adha dimana warga melakukan ritual Ider Bumi dan mengumandangkan azan serta membaca istighfar (permohonan ampun kepada Allah SWT) sambil keliling desa. Seni Pencak Sumping berbeda dengan pencak silat di Jawa. Selain beberapa jurus yang berbeda, Pencak Sumping ini mengutamakan seni bela diri.