Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Nasi Lemeng / Sego Lemeng - Banyuwangi, Jawa Timur |
Nasi Lemeng adalah salah satu kuliner di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, yang hampir punah. Nasi yang dibakar dalam bambu tersebut biasanya ditemukan di saat upacara adat dan kegiatan tradisi masyarakat Desa Banjarsari, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi. Nasi Lemeng dalam pembuatan mirip seperti nasi jaha khas Minahasa. Pembuatannya menggunakan bilah-bilah bambu yang dimasak di atas tungku perapian kayu yang sederhana.
Pada zaman penjajahan, gerilyawan yang sedang berjuang menjadikan masakan ini sebagai salah satu tumpuan hidup. Dari cerita turun menurun warga desa Banjar, sego lemeng adalah makanan bekal para gerilyawan yang sedang melakukan perlawanan terhadap penjajah Kolonial Belanda. Ketika itu para pejuang berusaha memenuhi kebutuhan makanan di tengah kondisi sulit. Mereka kemudian membuat sego lemeng untuk bertahan hidup ketika bersembunyi dan berjuang di hutan. Dahulu sego lemeng jadi bekal para pejuang. Kini, nasi yang dibungkus daun pisang ini dijadikan bekal warga saat bekerja di kebun.
Ciri khas sego lemeng adalah proses memasaknya, yakni dimasukkan ke batang bambu dan dibakar di tungku dengan menggunakan kayu bakar. Nasi yang digulung dengan daun pisang dan diisi dengan cacahan daging ayam atau ikan asin ini lalu dimasukkan ke dalam bilah bambu dan dibakar sebelum disantap. Gurih dan sedap tercipta dari aroma daun pisang dan bau asap dari pembakaran bambu.
Bentuknya seperti lontong atau lemper tapi karena ditanak dalam waktu lama, nasi lemeng lebih tahan lama dan tidak mudah basi. Nasi lemeng memang lebih awet dan masih bisa dikonsumsi paling tidak tiga hari setelah dibuat. Ini karena proses memasak dengan metode slow-cook, asap yang dihasilkan dari proses pembakaran ini juga berfungsi sebagai pengawet alami.
Bahan dasar nasi lemeng adalah beras ketan. Nasi khas Banjar, Banyuwangi yang kaya rempah ini membutuhkan bilah-bilah bambu sebagai wadah nasi. Kemudian bilah bambu berisi nasi dimasak di atas tungku perapian kayu yang sederhana. Tahap awal adalah dengan mencuci beras yang sudah dicuci bersih dibumbui dengan paduan rempah. Rempah yang dipakai adalah daun salam, daun jeruk purut dan serai. Bahan-bahan rempah direndam lalu dimasak bersama nasi. Untuk menciptakan cita rasa gurih pada nasi lemeng tambahkan santan segar. Semua bahan tersebut dimasak menjadi satu hingga matang. Kemudian sebagai pelengkap, nasi lemeng diisi dengan cacahan daging ayam atau cincangan ikan tuna. Lalu semua dibungkus menjadi satu dalam daun pisang. Ramuan nasi lemeng yang telah dibungkus seperti lontong tersebut dimasukkan dalam bambu khusus, kemudian dibakar dalam perapian hingga empat jam. Resep nasi Lemeng yang asli hanya menggunakan garam untuk memberi rasa pada nasi.
Pemerintah daerah Banyuwangi memperkenalkan sego lemeng untuk menjaga budaya lokal dan menjadikan sego lemeng sebagai kuliner khas Desa Banjar untuk menarik para pelancong datang. Berbagai festival diadakan, mulai dari Festival 4444 Sego Lemeng hingga kegiatan tahunan yaitu Festival Sego Lemeng dan Kopi Uthek.