Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Janger Banyuwangi -Bayuwangi, Jawa Timur |
Janger Banyuwangi merupakan sebuah kesenian rakyat Banyuwangi yang memadukan tarian, kostum dan gamelan Bali, biasanya lakon yang dibawakan merupakan lakon-lakon legenda khas tanah Jawa. Cerita yang umumnya dipergelarkan antara lain: Ande-ande Lumut, Cinde Laras, Minakjinggo Mati, Damarwulan Ngenger, Damarwulan Ngarit, Sri Tanjung, cerita bernafaskan Islam, dan sebagainya. Bahasa yang digunakan dalam pertunjukkan ini adalah bahasa Jawa dan bahasa Using.
Janger Banyuwangi konon diciptakan oleh seorang pedagang sapi yang juga pengemar kesenian yaitu Mbah Darji yang berasal dari Dukuh Klembon, daerah Singonegaraan, Banyuwangi. Sebagai seorang pedagang ia sering bepergian dari Banyuwangi menuju Bali. Ia mengagumi budaya Bali dan menyukai kesenian teater Arja. Ia lantas berkenalan dengan seniman musik bernama Singobali di Penganjuran. Dari minat dan perkenalannya dengan seniman Bali itu maka ia menggagas ide untuk mengombinasikan Teater Ande-Ande Lumut dengan tarian dan gamelan Bali, dengan tetap menggunakan bahasa Jawa dan Using. Janger Banyuwangi ini kemudian populer, sehingga ada banyak grup kesenian yang kemudian mempergelarkan kesenian Janger Banyuwangi ini. Popularitasnya kemudian keluar hingga ke luar daerah Banyuwangi. Janger Banyuwangi selain berfungsi sebagai hiburan, pada jaman perjuangan juga dipakai oleh para pejuang untuk menutupi kecurigaan prajurit Belanda dan mata-matanya pada masa pergerakan. Pada saat ini Janger Banyuwangi selain sebagai media hiburan juga menjadi media sosialisasi seperti edukasi bencana dan menjaga persatuan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia
Seperti halnya pertunjukan teater maka di dalam pertunjukan Janger Banyuwangi ini ada kisah yang disampaikan, musik dari gamelan Bali, dan juga tari-tarian. Biasanya juga ada bagian lawakannya. Unsur yang diserap dari budaya Bali berupa bentuk gerak, busana pemain, musik pengiring bersama dengan teknik tabuhnya Gong Kebyar Bali sangat memberikan corak pada pertunjukan ini. Unsur Jawa dalam Janger Banyuwangi adalah gaya panggung, dialog, dan tembang yang digunakan Bahasa yang digunakan para pemain adalah bahasa Jawa seperti pada pertunjukan ketoprak. Sedangkan unsur lokal yaitu Banyuwangi dapat dilihat dari cerita yang diadopsi, tari-tarian, dan lagu daerah. Bahasa Using juga digunakan pada adegan tertentu seperti pada saat adegan lawakan dan pisowanan. Penggunaan bahasa using pada babakan lawak menunjukkan bahwa bahasa Using merupakan media komunikasi yang akrab antara penonton dengan pemain.
Pada adegan pembuka dipergelarkan tarian khas Bali seperti Pendet dan Legong atau tarian khas Banyuwangi seperti Jaran Goyang dan Jejer Gandrung. Kostumnya yang dipakai disesuaikan dengan cerita yang disampaikan. Apabila ceritanya mengandung tokoh bangsawan maka mereka mengenakan busana khas Bali, para perempuannya menggunakan busana Bali yang dimodifikasi, sedangkan rakyat biasa menggunakan busana khas Jawa