Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaUpacara Tandur - Banyuwangi, Jawa Timur
Setelah sawah selesai dikerjakan dan benih padi telah didaut, maka pada esok harinya benih-benih tersebut ditanam kembali. Pekerjaan menanam padi tersebut oleh masyarakat Banyuwangi disebut dengan tandur/labuh tanam atau tiris. Waktu untuk tandur tidak setiap hari boleh tetapi harus memilih hari yang menurut petung dianggap baik. Adapun waktu yang dianggap baik jika jumlah naptu hari dan pasaran pada saat upacara dilaksanakan dapat dibagi 4. Karena hari itu menurut perhitungan jatuh pada woh (buah). Hari yang dimaksud misalnya kamis kliwon karena hari tersebut mempunyai naptu 16 (kamis (8) + kliwon (8)), senin kliwon yang mempunyai naptu 12 (senin (4) + kliwon (8)). Hari yang dianggap kurang baik dan harus dihindari antara lain hari kematian orang tua dari kedua belah pihak. Pada waktu tandur diadakan upacara selamatan dengan sesaji yang terdiri dari: - Nasi brok - Jenang merah - Jenang putih - Jenang baro-baro - Cok bakal - Kemenyan - Bunga wangi - Air tape (badhek tape) - Bumbu Sesaji tersebut dipersembahkan kepada Dewi Sri sebagai Dewi pertanian, Dhanyang yang menjaga sawah tersebut, Ibu Bumi, dan Bapa Kuasa dengan maksud supaya tanaman padi itu tumbuh subur, beranak banyak serta lebat buahnya. Disamping itu agar semua yang mengerjakan sawah selamat. Selamaatn tersebut dilaksanakan di sawah yaitu di tulakan yang dipimpin oleh pinisepuh atau orang yang dituakan di desa si pemilik sawah. Jalannya upacara, pada saat yang telah ditentukan setelah semua perlengkapan upacara tersedia si pemilik sawah pergi ke sawah dengan membawa perlengkapan tersebut. Pada upacara ini si pemilik sawah mengundang beberapa orang tetangganya atau orang yang rumahnya berdekatan dengan sawah untuk ikut kenduri. Setelah semuanya lengkap maka upacara pun dimulai. Pemimpin upacara segera membakar kemeyan. Kemudian menyampaikan maksud selamatan kepada orang yang ikut kenduri. Setelah itu makanan (sesaji) tersebut dibagi-bagikan kepada yang hadir. Seusai kenduri, pemimpin upacara mengambil benih padi sebanyak jumlah naptu hari pada saat itu kemudian ditanam (ditandur). Prosesi tandur kemudian dilanjutkan oleh ibu-ibu.