Ketika tanaman padi telah berumur kurang lebih 2 bulan setengah, masyarakat Banyuwangi menganggap padi tersebut telah bunting. Agar padi yang bunting ini keluar (njebul) dengan selamat dan tidak diserang oleh hama maka diadakan upacara yang disebut ngrujaki atau nyidam. Pada selamatan ini disediakan sesaji berupa:
- Buceng (nasi tumpeng)
- Panggang ayam
- Nasi golong
- Nasi brok
- Jenang merah
- Jenang putih
- Rujak
- Dawet
- Cok bakal
- Kemenyan
- Kembang wangi
Dan selamatan ini ditujukan kepada Dewi Sri dan Dhanyang yang menjaga sawah.
Setelah persiapan untuk selamatan tersedia, maka orang yang mempunyai hajat membawa sesaji tersebut ke tempat upacara yaitu sawah yang diselamati. Beberapa orang tetangganya diundang untuk kenduri. Setelah semua berkumpul upacara pun dimulai. Pemimpin upacara yaitu sesepuh atau pemilik sawah itu sendiri mengutarakan maksud diadakannya upacara tersebut kemudian membaca doa slamet. Selesai membaca doa, pemimpin upacara mengambil sedikit sesaji tersebut kemudian diletakkan di tulakan. Sedangkan sisa sesaji tersebut kemudian dibagi-bagikan kepada orang-orang yang ikut kenduri. Setelah mereka masing-masing mendapat bagian lalu dimakan bersama dan sisanya dibawa pulang.