Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaUpacara Menabur Benih - Banyuwangi, Jawa Timur
Setelah upacara bubak atau pacak labuh dilaksanakan para petani segera mengerjakan tanah garapannya. Pertama kali mereka membuat persemaian (pinihan) pada salah satu petak yang dekat dengan saluran air (tulakan) atau petak yang tersubur. Setelah persemaian siap maka benih segera disebar. Pekerjaan menyebar benih ini oleh masyarakat Banyuwangi disebut dengan ngurit, nyawur atau nyebar. Upacara tersebut dilaksanakan di tempat persemaian itu juga yang dipimpin oleh orang yang dianggap tua (sesepuh) di desa tersebut. Pada upacara ini tidak dilakukan kenduri hanya membuat sesaji yang sangat sederhana yang berupa cok bakal, bunga wangi dan daun dlingo. Daun dlingo kemudian ditancapkan di persemaian tersebut. Sesaji yang telah disiapkan tersebut dipersembahkan kepada Ibu Bumi, Bapa Kuasa dan Dadung Awuk yaitu pengembala kutu-kutu walang atogo serta Dewi Sri dan Joko Sadono. Persembahan ini dimaksudkan supaya benih yang telah disemaikan tumbuh dengan subur dan tidak diserang oleh hama. Seperti halnya ketika bubak sawah maka waktu untuk ngurit juga harus dilaksanakan pada saat yang baik yaitu pada hari dan pasaran yang dianggap baik berdasarkan petung. hari yang dianggap baik adalah hari yang menurut petung jatuh pada hitungan wit (kitri). Masyarakat Banyuwangi di dalam bercocok tanam padi mempunyai patokan berdasar petung Jawa yang berjumlah 5 yaitu: 1. Sri artinya oyot (akar) 2. Kitri artinya wit (pohon) 3. Gono artinya godhong (daun) 4. Liyu artinya kembang (bunga) 5. Pokok artinya woh Untuk mengetahui hari yang mana yang menurut petung jatuh pada kitri maka perlu dikemukakan bahwa masyarakat Banyuwangi mengenal dina pitu (senin, selasa, rabu, kamis, jumat, sabtu, minggu) dan pasaran lima (legi, pahing, pon, wage, kliwon). Hari dan pasaran masing-masing mempunyai naptu (nilai), senin (4), selasa (3), rabu (7), kamis (8), jumat (6), sabtu (9), minggu (5) sedangkan legi (5), pahing (9), pon (7), wage (4), kliwon (8). Berdasarkan patokan tersebut waktu yang baik untuk ngurit antara lain hari rabu legi yang mempunyai naptu 12, rabu (7) + legi (5) = 12 dan kamis pahing yang mempunyai naptu 17. Kedua hari tersebut menurut hitungan jatuh pada kitri (wit). Untuk jalannya upacara, pemilik sawah membawa sesajian ke tempat upacara yaitu ke sawah. Pemimpin upacara yaitu sesepuh kemudian menancapkan batang dlingo di empat sudut sawah lalu membakar kemenyan. Gabah yang akan ditabur diberi bunga dan pada saat itu pemimpin upacara membaca doa slamet. Gabah tersebut kemudian ditabur.