Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Upacara Memetik Padi - Banyuwangi, Jawa Timur |
Apabila padi telah menguning dan sudah tiba masanya dipetik maka para petani mempersiapkan slametan. Upacara slametan yang dilakukan pada saat memetik padi ini disebut dengan wiwit. Kata wiwit berarti mulai. Sesuai dengan namanya upacara wiwit diselenggarakan orang pada saat mulai memanen hasil sawahnya (padi).
Upacara wiwit biasa pula disebut dengan methuk Dewi Sri. Kata methuk berarti menjemput. Jadi upacara methuk Dewi Sri berarti menjemput Dewi Sri. Pada dasarnya upacara wiwit mengandung makna menjemput Dewi Sri dari sawah dan dibawanya pulang ke rumah pemilik sawah/padi. Adapun tujuan penjemputan Dewi Sri pulang ke rumah pemilik padi adalah agar Dewi Sri berkenan menjaga padi hasil panen dan berkenan pula melimpahkan berkatnya kepada pemilik padi. Selain itu pengundangan Dewi Sri dalam upacara wiwit juga mengandung maksud pernyataan rasa syukur dan terima kasih atas berkat Dewi Sri yang telah melimpahkan hasil panen yang segera dapat dipetik dan dibawa pulang ke rumah.
Seperti halnya ketika menabur benih, ndaut, dan tandur, maka waktu untuk wiwit juga harus dilaksanakan pada saat yang baik yaitu hari dan pasaran yang dianggap cocok berdasarkan primbon jawa. Saat yang dianggap baik adalah apabila jumlah naptu hari dan pasaran jatuh pada hitungan Sri yang artinya baik dan buahnya banyak. Hari tersebut misalnya jumat legi yang mempunyai naptu 11 (jumat (6) + legi (5)). Hari lain yang dianggap baik adalah hari kamis kliwon dan sabtu pon. Kedua hari tersebut jumlah naptunya
16. Selamatan atau upacara wiwit diselenggarakan di sawah yang dipimpin oleh pinisepuh atau orang yang menguasai seluk beluk upacara.
Masyarakat Jawa pada umumnya dan masyarakat Banyuwangi menganggap upacara wiwit merupakan puncak upacara dan mendapat penekanan lebih besar dari upacara-upacara di dalam bercocok tanam padi. Oleh karena itu sesaji pada upacara ini lebih lengkap dan lebih banyak macamnya. Sesaji yang disediakan dalam upacara wiwit adalah sebagai berikut:
- Buceng
- Panggang ayam
- Nasi golong
- Jenang merah
- Jenang putih
- Jenang baro-baro
- Polo pendhem
- Jajan pasar
- Pisang ayu 2 sisir (setangkep)
- 2 buah kelapa
- Tebu sebatang
- Bunga wangi
- Kinang
- Uang logam
- Selendang biru
Untuk jalannya upacara, pada hari yang telah ditentukan biasanya pagi hari setelah persiapan upacara tersedia, pemilik sawah atau orang yang mempunyai hajat pergi ke sawah dengan membawa sesaji dan mengundang beberapa orang untuk ikut kenduri. Setelah sampai di sawah mereka berkumpul di salah satu petak yang akan dipetik padinya. Upacara kemudian dimulai dengan diawali pemimpin upacara membakar kemeyan dan membaca doa serta menancapkan batang tebu di tempat upacara tersebut. Setelah itu memetik padi sebanyak jumlah naptu hari pada saat itu. Kalau pada saat itu kamis kliwon maka jumlah padi yang dipetik 16 batang, jika jumat legi padi yang dipetik 11 batang.
Pada waktu memetik padi tersebut sehelai daun padi yang paling atas diikut sertakan. Daun-daun padi yang sengaja diikut sertakan pada tangkai-tangkai padi itu kemudian dijalin (diklabang) seperti halnya orang menjalin rambut wanita lalu diberi bunga. Padi yang dibentuk seperti itu disebut dengan ngantenan. Ngantenan ini dibawa pulang, digendong dengan selendang biru sebagaimana orang ngunduh kemanten. Setelah tiba di rumah, ngantenan tersebut diletakkan di petanen. Sesaji yang dibawa pada upacara ini dikendurikan setelah pemimpin upacara memetik padi.