Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Tradisi mBuang Jangan - Banyuwangi, Jawa Timur |
Tradisi mbuang jangan adalah tradisi yang dilakukan untuk menetralisir kesialan dan keapesan. Ketika harmonisasi kehidupan antara manusia dengan alam sekitar mengalami gangguan dan hambatan maka diperlukan solusi untuk mengatasinya. Solusi tersebut merupakan bentuk ikhtiar dan upaya manusia agar kehidupannya bisa kembali selaras dengan alam. Sebagian masyarakat tradisional menganggap bahwa ketika seseorang seringkali mengalami nasib sial, sering apes dan selalu kurang beruntung dalam meraih keinginannya atau pekerjaan yang dilakukannya, itu karena ada pantangan atau hal-hal yang ditabukan secara alam yang telah dilanggar.
Ada orang-orang tertentu di kalangan masyarakat yang mempunyai pantangan untuk menanam, memetik ataupun mengkonsumsi hasil-hasil pertanian dan tanaman yang berwarna hitam seperti ketan hitam, tebu hitam, kedelai hitam dan sebagainya. Jika pantangan ini dilanggar biasanya orang tersebut akan sering mengalami nasib sial dan sering apes.
Menurut kepercayaan masyarakat Osing di Desa Kemiren, kesialan dan keapesan yang melekat pada diri orang tersebut bisa menitis kepada anak keturunannya. Dan untuk menetralisir agar kesialan dan keapesan tidak sampai ke anak cucunya maka keluarganya wajib menggelar ritual adat mbuang jangan.
Tradisi ini dilakukan anak-anak setelah diketahui bahwa ada salah satu dari orang tuanya atau kakek nenek si anak sering mengalami sial dan apes karena telah melanggar pantangan. Dan tradisi ini harus dilaksanakan ketika usia si anak masih belum genap satu tahun.
Tradisi mbuang jangan dilaksanakan dengan ditandai mbuang jangan atau membuang masakan sayur yang biasanya sebgai pelengkap makan nasi dan lauk ke kolong tempat tidur si anak. Tradisi ini dilakukan dengan maksud agar si anak terhindar dari kesialan dan keapesan seperti yang sering dialami oleh orang tua atau kakek-neneknya sekaligus memutus rantai pantangan yaitu agar si anak dapat terbebas dari belenggu pantangan seperti yang berlaku terhadap orang tua atau kakek-neneknya.
Tradisi mbuang jangan diawali dengan menggelar acara selamatan dan mengundang para tetangga sekitar rumah. Dengan disaksikan oleh sanak saudara serta undangan yang hadir dalam acara selamatan tersebut orang tua si anak lalu menumpahkan atau membuang masakan sayur ke kolong tempat tidur. Selanjutnya si anak kemudian dibimbing orang tuanya untuk menaiki sebuah tangga yang telah disiapkan sebelumnya. Tangga tersebut bukan dibuat dari bambu tetapi dari tebu hitam. Sedangkan untuk bagian melintang yang digunakan sebagai tempat pijakan kaki untuk naik digunakan benda-benda tajam seperti pedang, golok dan sebagainya.
Maksud dari adegan si anak dibimbing menaiki tangga tersebut adalah sebagai simbol keberanian si anak dalam menghadapi pantangan sebagaimana yang diberlakukan terhadap orang tua atau kakek-neneknya. Meskipun tradisi ini sudah mulai jarang ditemui namun tradisi ini masih ada dan diyakini oleh masyarakat Kemiren.