Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaTradisi Gelar Pitu - Banyuwangi, Jawa Timur
Ritual Gelar Pitu dilaksanakan secara rutin konon berawal dari wejangan atau petuah yang disampaikan oleh Buyut Saridin kepada dua orang cucunya, Sudanti dan Semitri. Petuah atau wejangan Buyut Saridi ini kemudian diperingati dengan melaksanakan ritual yang dinamakan Gelar Pitu. Pelaksanaan ritual Gelar Pitu dikendalikan sepenuhnya oleh Pemangku Adat yang terdiri dari 7 orang. Sedangkan makna dibalik nama Gelar Pitu adalah ‘gelar’ yang artinya noto atau menata dan ‘pitu’ yang mengandung makna ‘pitutur’ atau petuah yang disampaikan Buyut Saridin itu berisi 7 buah pesan yang harus ditaati dan dilaksanakan oleh anak cucu keturunannya. Tujuh petuah yang disampaikan Buyut Saridin kepada cucunya kala itu: 1)Besok ketika sudah sampai umurku, ditempat jasadku dikubur, berilah tanda kelaras (daun pisang yang sudah kering) atau papahe gedhang (pelepah pisang). 2)Kedua, bila hendak memanen padi di balad (daerah) sini, jangan lupa menggantung atau memasang umbul-umbul yang berwarna merah. 3)Ketiga, setiap tahun jangan sampai lupa melakukan sedekah bumi (selamatan) di halaman rumah atau di jalanan. Adat atau tradisi ini jangan sampai ditinggalkan. 4)Dan, berjalanlah beriring-iringan dengan sanak saudara ke tempat-tempat yang akan dituju, supaya mendapat keselamatan. Bawalah makanan di atas ancak dan gunakan daun pisang sebagai alas makannya. 5)Tidak perlu bagus dan banyak. Gunakan saja kupat pitu, lepet pitu, dan yang lainnya juga tujuh. Kalau tidak bisa mengisi kupat dengan beras, kupat mentahan (kupat kosong) saja ya bisa asal tujuh ketupat (kupat pitu) tadi diisi dinar (uang). Setelah itu perebutkan. Siapa saja yang mendapat ketupat kosong, pertanda kedepan nanti rejekinya sedikit. Dan sebaliknya bila mendapatkan ketupat yang isi uangnya banyak, pertanda kedepan nanti rejekinya lancar. 6) Laksanakan tolak sengkolo balak belahi (ritual tolak bala). Yang menjalankan harus anak perempuan dan krukuba (gunakan mahkota atau penutup kepala) menggunakan pupus daun pisang, di atasnya tancabkan bunga warna merah. Lakukan setiap tahun agar balad (tlatah atau daerah) ini terhindar dari penyakit dan agar pertanian disini tidak diganggu hama. Laksanakan itu bersama sanak-famili dan seluruh keluarga. Bila dilaksanakan oleh sanak-famili di luar sini, harus dilaksanakan tujuh hari. Semua sanak famili yang ada disini harus ikut turun, meskipun hanya dengan sejumput beras. 7)Kupat-pitu dan lepet-pitu sebagai sarana untuk mengingat-ingat:1.Sebelum kamu lahir, ketika masih berada dalam kandungan, ketika usia kandungan 7 bulan, kamu diselameti tingkeb (selamatan tujuh bulanan). 2.Kamu hidup di atas bumi, dan bumi itu berlapis tujuh. 3.Kamu hidup beratap langit, dan langit itu juga berlapis tujuh. 4.Kamu hidup dengan meminum air, dan macam air juga ada tujuh; air sumber, air hujan, air laut, air sawah, air embun, air kawah, dan air sumur. 5.Kamu membuat rumah yang terdiri dari tujuh belungan (kayu penyangga): soko, jahit, lambang, penglari, belandar, suwunan dan rab. 6.Hari juga ada tujuh. 7.Sampai kamu meninggal, mulai geblag (saat pertama meninggal) sampai seribu harinya juga ada tujuh macam selamatan. Tradisi Gelar Pitu merupakan acara bersih desa yang diselenggarakan setahun sekali tepatnya 7 hari setelah hari raya Idul Fitri. Tradisi ini mempunyai tujuan agar masyarakat diberikan keselamatan dan keberkahan serta mendapatkan rejeki yang berlimpah dan ini juga merupakan bentuk ikhtiar untuk memohon perlindungan kepada Tuhan agar selalu menjaga desa. Tradisi ini diawali dengan melakukan mendhak tirta (mengambil air suci) ditujuh mata air milik desa. Air tersebut kemudian digunakan untuk memerciki kupat gunggungan dan barong. Ketupat gunggungan adalah ketupat yang disusun menjadi seperti gunung, di dalam ketupat tersebut diisi sejumlah uang yang disumbangkan secara sukarela oleh masyarakat sekitar. Prosesi Gelar Pitu diawali dengan seorang laki-laki tua yang berpakaian serba hitam membakar dupa. Dibelakangnya kemudian beberapa orang mengikuti dengan membawa ancak (makanan yang diletakkan ditempat yang terbuat dari pelepah pisang), dilanjutkan dengan arak-arakan barong serta gunungan yang terbuat dari ketupat. Setelah membaca doa- doa, rombongan yang diikuti ratusan masyarakat Dusun Kopen Kidul, Desa Glagah tersebut bergerak melewati jalan-jalan desa yang sempit serta melalui persawahan serta gang kecil depan rumah warga. Selanjutnya rombongan tersebut berhenti di areal pemakaman umum untuk berziarah di makam Buyut Saridin, leluhur Dusun Kopen Kidul.