Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Ritual Adat Koloan (Sunat) - Banyuwangi, Jawa Timur |
Koloan adalah ritual adat yang digelar oleh masyarakat Osing menjelang acara khitanan anak-anaknya. Ritual adat berbentuk selamatan ini digelar khusus di halaman rumah dengan posisi duduk melingkar ini sudah mulai jarang ditemukan. Menurut Sanusi dulu ritual adat Koloan merupakan ritual wajib yang harus digelar sebelum menyelenggarakan acara khitanan. Namun seiring perkembangan zaman dimana masyarakat sudah mulai meninggalkan teknik khitanan tradisional yang disebut ‘calak’, ritual adat koloan juga mulai ditinggalkan.
Ritual adat koloan diawali dengan penyampaian wasilah atau petuah-petuah yang disampaikan dengan menggunakan Bahasa Osing oleh salah seorang tokoh atau sesepuh masyarakat setempat. Setelah usai penyampaian wasilah acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh tokoh agama setempat, Kemudian dilanjutkan tuan rumah menghidangkan aneka makanan kepada para undangan yang hadir. Seusai menyantap hidangan selamatan, para undangan tidak langsung pulang tetapi ikut menyaksikan prosesi selanjutnya yaitu penyembelihan seekor ayam yang darahnya kemudian ditetes-teteskan kepada tubuh si anak yang akan dikhitankan.
Sebelumnya si anak yang akan dikhitan harus duduk bersila di atas tanah dengan hanya mengenakan celana pendek tanpa baju. Kemudian dengan dipimpin oleh tokoh agama setempat, para undangan secara bersama-sama mendoakan si anak yang akan dikhitan. setelah pembacaan doa kemudian dilakukan penyembelihan ayam persis di atas si anak yang tengah duduk. Dan darah segar yang mengucur dari leher ayam lansung berlumuran ke tubuh si anak. Setelah berlumur darah, kepala si anak kemudian diusap-usap dengan ‘pitung tawar’ dengan maksud agar si anak yang akan dikhitan nantinya memiliki kekuatan dan kekebalan dari segala jenis penyakit serta marabahaya lainnya. Si anak kemudian dibawa ke mushola terdekat untuk dimandikan hingga bersih.
Ritual adat koloan berpegang kepada sejarah Nabi Ibrahim. Sesuai dengan ajaran Islam, khitan merupakan syarat yang harus dilaksanakan ketika usia si anak mulai akhil baligh. Dan khitan merupakan ajaran agama yang kali pertama dilaksanakan oleh Nabi Ibrahim. Mengenai penyembelihan ayam yang kemudian darahnya dikucurkan ke tubuh si anak yang akan dikhitan adalah bentuk penghormatan kepada Nabi Ibrahim yang telah mengorbankan anaknya yaitu Nabi Ismail meski pada akhirnya Nabi Ismail diganti dengan seekor kambing oleh Allah. Dengan dilaksanakannya ritual adat koloan diharapkan nantinya anak yang dikhitankan bisa menjadi anak yang saleh dan bisa meneladani Nabi Ibrahim dan Ismail.