Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaAngklung Paglak - Banyuwangi, Jawa Tengah
Angklung merupakan jenis musik yang terbuat dari bambu dengan susunan nada yang teratur dalam kemapanan sistem tabuhan. Di Banyuwangi angklung digunakan untuk mengiringi tarian, lantunan tembang Osing, atau diperdengarkan sebagai musik instrumental yang dimainkan di rumah atau di sawah. Banyak lagu yang lahir dari tradisi musik angklung terkait dengan situasi sosial – ekonomi. Angklung di Banyuwangi terdiri atas angklung paglak dan angklung caruk. Selain dua jenis angklung tersebut juga terdapat angklung tetak, angklung dwi laras, dan angklung blambangan/daerah. Angklung paglak adalah jenis angklung yang dimainkan di atas paglak (gubuk kecil) yang biasanya terdapat di area persawahan. Panglak tersebut mempunyai tinggi sekitar 6 meter sehingga bila ada yang memainkan musik angklung akan terdengar hampir di seluruh desa. Angklung paglak hanya dimainkan oleh 4 orang yang terdiri dari 2 pemain/penabuh angklung dan 2 pemain kendang ketipung, untuk angklung paglak tidak ada penarinya karena dimainkan di areal persawahan. Angklung paglak pada umunya dimainkan pada saat musim panen padi. Menurut Serad pada waktu musim panen padi, pemilik sawah yang siap panen akan menanggap angklung paglak dengan mengundang penabuh 4 orang selama satu hari penuh. Pemilik sawah menanggap angklung paglak umumnya untuk nyaur nadhar yang pernah diucapkan sebelumnya yaitu “pari siro dhong apik siro arep ngundhang angklung paglak”. Angklung paglak selain untuk nyaur nadhar, juga digunakan sebagai sarana untuk mengundang warga lain untuk ikut serta (gotong royong) membantu memanen padi. Suara angklung yang membahana tersebut diterima oleh warga desa sebagai pertanda bahwa di tempat yang menjadi asal suara tersebut ada yang sedang panen sehingga mereka tanpa segan-segan segera bergegas menuju asal suara tersebut untuk membantu memanen padi. Angklung paglak yang ditampilkan selama satu hari penuh tersebut juga menjadi hiburan bagi warga yang sedang memanen pagi. Denagn mendengar suara angklung menjadikan rasa lelah dan penat setelah seharian bekerja di sawah menjadi hilang. Menurut Serad bambu yang digunakan untuk membuat angklung adalah bambu benel, “jare wong Kemiren jiajang benel”. Warna bambunya kalau sudah kering berwarna kekuningan.