Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaAngklung Caruk - Banyuwngi, Jwa Timur
Pertunjukan angklung diperkirakan berasal dari kesenian Legong Bali. Angklung caruk merupakan bentuk permainan musik angklung dalam pentas bersama dua grup angklung yang dipertemukan untuk saling unjuk keterampilan. Grup angklung caruk yang ada di Kemiren bernama “Grup Sitangis”. Menurut Serad, nama Sitangis diambil dari kisah yang pernah terjadi di Kemiren. Dulunya itu yang membuat slenthem, musik perkusi itu “mosad cicir ngaten” pun dadi abang niku sampek nangis wehh iki arep ana sitangis dan sampai sekarang sitangis. Grup Sitangis sudah ada di Kemiren semenjak kakeknya pak Serad dan bertahan hingga sekarang. Gendhing yang dimainkan dalam angklung caruk adalah gendhing karangan, dengan membuat sendiri gendhingnya agar tidak sama dengan gendhing dari musuhnya. Untuk gendhing seperti sinom, pangkur atau kutut manggung itu sama. Pertunjukan angklung caruk di Kemiren dimainkan oleh 14 orang pemain yang terdiri dari 13 orang pemain musik atau penabuh dan satu orang penari. Instrumen yang dimainkan dalam melantunkan lagu-lagu Osing antara lain angklung, sharon, peking, slenthem, kethuk, gong, gendang, biola, seruling dan terompet. Menurrut Serad, bambu yang digunakan untuk membuat anglung caruk adalah jenis bambu ori karena bambunya kuat dan bisa menghasilkan suara yang keras. Pertunjukan angklung diperkirakan berasal dari kesenian Legong Bali. Angklung caruk merupakan bentuk permainan musik angklung dalam pentas bersama dua grup angklung yang dipertemukan untuk saling unjuk keterampilan. Grup angklung caruk yang ada di Kemiren bernama “Grup Sitangis”. Menurut Serad, nama Sitangis diambil dari kisah yang pernah terjadi di Kemiren. Dulunya itu yang membuat slenthem, musik perkusi itu “mosad cicir ngaten” pun dadi abang niku sampek nangis wehh iki arep ana sitangis dan sampai sekarang sitangis. Grup Sitangis sudah ada di Kemiren semenjak kakeknya pak Serad dan bertahan hingga sekarang. Gendhing yang dimainkan dalam angklung caruk adalah gendhing karangan, dengan membuat sendiri gendhingnya agar tidak sama dengan gendhing dari musuhnya. Untuk gendhing seperti sinom, pangkur atau kutut manggung itu sama. Pertunjukan angklung caruk di Kemiren dimainkan oleh 14 orang pemain yang terdiri dari 13 orang pemain musik atau penabuh dan satu orang penari. Instrumen yang dimainkan dalam melantunkan lagu-lagu Osing antara lain angklung, sharon, peking, slenthem, kethuk, gong, gendang, biola, seruling dan terompet. Menurrut Serad, bambu yang digunakan untuk membuat anglung caruk adalah jenis bambu ori karena bambunya kuat dan bisa menghasilkan suara yang keras. Angklung caruk dimaknai sebagai ajang kolaborasi musik yang memberikan peluang bagi dua grup musik angklung untuk saling unjuk keterampilan bermain angklung atau guna menyajikan berbagai lagu Osing. “Caruk” berarti “temu”. “Kecaruk” atau “ketemu” atau bertemu. Dalam pertunjukan angklung caruk akan terpilih kelompok angklung yang baik. Dalam tradisi “caruk” terdapat konvensi yang kuat yang dipatuhi oleh setiap kelompok. Penonton dapat menjadi salah satu apresian yang mendukung kreativitas dan sportivitas dalam tradisi musik angklung caruk. Tradisi caruk dalam pertunjukan angklung menjadi faktor yang merangsang tumbuhnya sikap dan laku kreatif dalam permainan musik angklung. Kompetisi tersebut menumbuhkan estetika musik yang dinamis dalam setiap karya serta mendorong lahirnya pemain angklung yang terampil dan handal. Dalam tradisi angklung caruk disajikan larasan yang dimainkan oleh setiap kelompok yang ditandai dengan munculnya penari yang menyajikan tarian untuk membuat kesepakatan tentang durasi permainan dalam caruk. Setelah memperoleh kesepakatan caruk dimulai dengan adol gendhing. Pada saat adol gendhing satu kelompok menyajikan lagu yang kemudian beberapa saat akan segera dipotong oleh kelompok angklung lainnya sehingga kelompok pertama harus menghentikan permainan angklungnya. Pada tahap tertentu kelompok yang berhasil memotong permainan angklung lawannya akan segera ngosek (mengambil kesempatan main). Hal ini dilakukan secara bergantian sampai