Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaKrupuk Rambak /Rambak Krecek - Bantul, DIY
Sejarah: Banyak makanan tradisonal yang ada di wilayah Bantul, satu diantaranya krupuk rambak. Sebagai sentra pengrajin krupuk rambak atau rambak krecek di wilayah Bantul yakni di daerah Segoroyoso. Di tempat tersebut terdapat 34 pengrajin krupuk rambak. Para pengrajin krupuk rambak di Segoroyoso tersebar di 5 Pedusunan yaitu di Srumbung, Jembangan, Kloron, Segoroyoso 1 dan Segoroyoso 2. Salah satu pengrajin yang ada di Segoroyoso adalah Bapak Mardiyono. Beliau memulai usaha membuat krupuk rambak sejak tahun 1990. Usaha tersebut merupakan warisan dari kakaknya. Awal mula berkembngnya industri krupuk rambak atau rambak krecek di daerah Segoroyoso adalah adanya seorang pendatang dari Ponggok, Sewon, Timbulharjo, Bantul. Kemudian berkembang di kampung Groso Rt 6 Kelurahan Segoroyoso, Pleret, Bantul dan dikuti oleh dusun yang lain di Segoroyoso. Deskripsi: Krupuk rambak atau rambak krecek adalah makanan tradisional yang terbuat dari bahan dasar kulit kerbau. Tempat sentra industri krupuk rambak di daerah Bantul di antaranya di Kalurahan Segoroyoso. Salah satu pengrajin krupuk rambak di daerah tersebut adalah Bapak Mardiyono. Beliau memulai usahanya sejak tahun 1990. Dengan dibantu tenaga kerja sebanyak 5 orang produksi krupuk rambak yang dikelola oleh Bapak Mardiyono masih tetap eksis hingga kini. Pada saat tertentu, saat menjelang lebaran atau pada saat musim hajatan misalnya bulan besar atau musim haji biasanya banyak sekali pesanan, sehingga untuk memenuhi permintaan pasar maka Bapak Mardiyono menambah 2 tenaga kerja. Usaha krupuk rambak yang dikelola oleh Bapak Mardiyono diberi merek Rambak Cap Dua Kelinci dan nama perusahaannya Windasari. Bahan baku yang berupa kulit kerbau didatangkan dari Surabaya dan Boyolali. Namun bahan baku tersebut berasal dari Kalimantan dan ujung Pandang. Kulit kerbau tersebut dapat pula dibeli melalui distributor yang ada di Segoroyoso. Alat-alat yang dipergunakan untuk memproduksi krupuk rambak diantaranya : pisau, Wajan, kalo besar, tungku kayu, disamping itu ada alat2 yang lain. Pengolahan krupuk rambak melalui beberapa proses. Pertama-tama kulit kerbau yang masih berupa lembaran dipotong-potong berbentuk persegi dengan ukuran 40 Cm. kemudian direbus hingga mengembang. Selanjutnya kulit kerbau dibersihkan bulu dan sisa daging yang masih menempel dengan cara mengerok. Kemudian direbus lagi hingga lunak. Kulit yang sudah lunak kemudian dipotong lagi menurut selera atau permintaan pasar, di samping itu juga dilakukan pemilihan kualitas kulit. Untuk memenuhi permintaan di wilayah Jogya maka krupuk rambak dipotong dengan ukuran besar, sebaliknya untuk memenuh permintaan konsumen di wilayah Klaten dan Solo maka kulit dipotong dengan ukuran lebih kecil. Kemudian potongan kulit kerbau dijemur hingga kering. Untuk mendapatkan kulit yang bener-bener kering memerlukan waktu kira-kira 2-3 hari di bawah sinar matahari. Setelah kering, pototngan –potongan kulit kerbau tersebut diungkep dengan minyak goreng pada suhu tertentu selama 8-12 jam. Pada proses pengungkepan dengan minyak merupakan tahapyang sangat menentukan. Jika kurang panas maka ketika digoreng rambak tidak mengembang, demikian sebaliknya jika terlalu panas. Untuk itu dibutuhkan kejelian untuk mengerjakan proses pengungkepan. Proses yang terakhir yaitu penggorengan . Setelah digoreng kemudian dikemas dan krupuk rambak siap pasarkan. Daya tahan Krupuk rambak yang telah diungkep hingga 1 tahun apabila disimpan dlam kantong-kantong plastik. Pangsa pasar krupuk rambak kulit dari Segoroyoso masih bersifat local, yaitu di sekitar wilayah DIY dan sekitarnya.