Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaKesenian Tradisional Gejog Lesung - Bantul, DIY
Sejarah: Gejog lesung merupakan sebuah kesenian yang lahir sejak pada zaman dahulu. Pada awalnya lesung digunakan oleh kaum ibu petani untuk menumbuk padi. Alat yang digunakan adalah lesung, yang terbuat dari batang pohon yang dilubangi bagian tengahnya sehingga berbentuk seperti perahu, dan alu yaitu alat penumbuk padi yang terbuat dari kayu. Lesung juga digunakan oleh rakyat desa untuk memisahkan padi dari tangkai-tangkainya, setelah panen raya tiba. Caranya, padi kering dimasukkan ke dalam lesung, kemudian ditumbuk dengan alu secara berirama. Pada umumnya, lesung dibuat dari kayu nangka atau munggur. Seiring berkembangnya teknologi, lesung mulai ditinggalkan dari kehidupan, karena lesung dianggap kurang efektif. pada masa kini, masyarakat lebih memilih alat-alat yang lebih canggih dan memudahkan pekerjaan mereka. begitu pula dengan petani, mereka lebih memilih menggunakan mesin penggiling padi. Karena lebih enghemat wktu dan tenaga. Sehingga lesung yang tadinya sebagai alat penumbuk padi keudian beralih fungsi sebagai alat musik tradisional, yakni gejog lesung. . Deskripsi: Gejog Lesung merupakan salah satu seni tradisional yang berkembang seiring dengan ungkapan syukur atas melimpahnya panen padi. Bila hanya mendengar dari kejauhan, suaranya :”thok – thek – thok – thok – thek – thok – dug”. Itu adalah suara Alu, yaitu sebuah alat dari kayu yang berbentuk panjang seperti tongkat besar, yang dipukul-pukulkan secara teratur pada kayu besar yang dibuat seperti perahu, yang dinamai Lesung. Sekarang memang lesung tidak digunakan lagi sebagai menggiling padi tetapi digunakan sebagai sebuah kesenian tradisional yang biasanya dimainkan oleh ibu-ibu karena dulunya yang menggiling padi dengan lesung adalah kaum Ibu. Pada masa lalu, lesung digunakan oleh kaum ibu petani untuk menumbuk padi. Lesung terbuat dari batang pohon yang dilubangi bagian tengahnya sehingga berbentuk seperti kapal. Sedangkan alu adalah alat penumbuk padi yang terbuat dari kayu. Seiring perkembangan teknologi, kini penggunaan lesung sudah tergeser oleh mesin penggilingan padi. Lesung-lesung yang masih tersisa menjadi barang antik yang mulai diburu kolektor. Di beberapa tempat, lesung masih dipertahankan, tidak untuk menumbuk padi, tetapi diolah menjadi seni Gejog Lesung. Seperti di kampung Nitiprayan, Kasihan, Bantul, ibu-ibu yang tergabung dalam kelompok Gejog Lesung Niti Budaya memanfaatkan bunyi alu yang menumbuk lesung, dan memadukannya dengan tembang-tembang berbahasa Jawa. Kini, lesung tetap dilestarikan sebagai seni tradisional. Suara alu yang dipukul-pukulkan pada lesung secara berirama itulah letak seninya. Penabuhnya sekitar lima sampai enam orang. Untuk memunculkan variasi suasana, kini suara lesung dipadukan dengan nyanyian tradisonal, yang dibawakan secara grup. Ada sekelompok orang yang nembang atau menyanyi sambil lenggak-lenggok menari; ada pula kelompok yang lain menari, meliak-liukkan tubuhnya sambil sekali-kali berputar-putar; sebagaimana layaknya menari dengan iringan gamelan lengkap.