Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Petis |
Petis merupakan semacam bumbu penyedap yang biasanya dipakai sebagai bumbu untuk membuat masakan khas Jawa Timur seperti rujak cingur,lontong kupang, sebagai teman makan gorengan,misalnya tahu goreng dan lain sebagainya. Biasanya petis dibuat dari udang. Namun di Sidoarjo khususnya di Desa Balongdowo, Kecamatan Candi banyak pembuat petis berbahan baku kupang. Karena kupang merupakan hasil tangkapan nelayan di Desa Balongdowo, Kecamatan Candi . Sejak zaman dulu, nelayan Balongdowo dikenal paling jago mengumpulkan kupang. Ibu-ibu nelayan kemudian menjadi pembuat petis nomor wahid.
Ibu Sila salah satunya. Hidupnya bergantung sepenuhnya pada petis. Dia membuat petis putih (cere) dan petis hitam (letek) untuk dijual di Kejapanan, Gempol, Pasuruan. Petis cere dibuat hanya dengan menggunakan gula pasir, sedangkan petis letek dicampur gula aren, sehinga warnanya menjadi gelap atau hitam. Jadi, bukan warna asli petis.
Dari segi ketahanan dan kualitas, petis cere lebih baik ketimbang petis hitam. Petis hitam ini sering dijumpai sebagai teman makan gorengan. Petis bisa bertahan sampai satu bulan bila disimpan di lemari es.
Petis cere disebut juga petis kualitas pertama. Sedangkan petis letek yang bertahan maksimal tiga hari dan disebut kualitas biasa.
Petis dibuat dari kupang putih karena kaldunya lebih mengembang ketimbang kupang merah. Selain itu, harga kupang merah lebih mahal.
Biasanya, pembuat petis mulai mengolah kaldu kupang dari pagi. Kaldu tersebut dimasak sambil diaduk hingga dua jam sampai mengental. Kemudian ditiriskan hingga mengembang.
Petis letek sering digunakan oleh pedagang kecil dan menengah karena harganya lebih murah. Sedangkan petis cere lazimnya dijual di rumah makan dan restoran yang memang mengutamakan kualitas. Harga petis cere per kilonya Rp 20.000. Petis letek hanya Rp 8.000.
Dalam sehari, pembuat petis di Balongdowo dapat menghasilkan 50 kg petis. Kalau diuangkan berkisar Rp 500.000 sampai Rp 1.000.000. Itu pun tergantung jumlah kaldu kupang yang disetorkan nelayan.
Vivin tiap hari menjual petis letek per bungkus dengan harga Rp 2.000. Sehari 125 bungkus. Jadi, kira-kira dapat Rp 250.000.
Usaha menembus pasar yang lebih tinggi ternyata tidak gampang. Ini karena masyarakat selama ini hanya tahu kalau petis itu terbuat dari udang. Padahal, kualitas dan daya tahan petis udang ini kurang bagus.
Kendala lain yang menghantui ialah harga gula yang terus naik. Otomatis harga petis pun ikut merangkak naik. Warga Balongdowo berharap agar pemerintah, khususnya bupati Sidoarjo yang baru, lebih mempromosikan petis kupang ke masyarakat. Entah di tingkat regional, nasional, bahkan internasional.