Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaUpacara Ngasa Jalawastu - Brebes, Jawa Tengah
Dusun Jalawastu merupakan daerah terpencil yang terletak dibawah kaki Gunung Kumbang. Akses jalan menuju ke sana masih berbatu dan berlumpur. Masyarakat hidup dengan menempati rumah yang masih berdiding kayu, bilih bambu dan beratap seng. Ketersediaan energi listrik masih sangat terbatas, masyarakat bahkan masih menggunakan menggunakan lilin sebagai sumber penerangan malam hari. Manyoritas masyarakat Dusun Jalawastusecara administratif merupakan pemeluk Islam, namun masih kental dengan adat istiadat terkait animisme dan dinamisme. Masyarakat dusun jalawstu bisa dikatakan sebagai “suku badui” bagi wilayah Brebas, namun masyarakat Jalawastulebih terbuka karena telah menggunakan teknologi yang berasal dari luar. Masyarakat Dusun Jalawastu juga memiliki upacara tradisional yang unik. Upacara Ngasa di Dusun Jalawastu digelar setiap Selasa Kliwon mangsa kasanga.Ngasa dilakukansejak pukul 06.00 pagi hingga selesai.Masyarakat Dusun Jalawastu dan masyarakat sekitarnya turut serta dalam memeriahkan gelaran upacara Ngasa yang dihelat di Gedong. Inti dari tradisi Ngasa yaitu meminta keselamatan pada Tuhan YME yang dilakukan dengan pembacaan doa oleh juru kunci Gedong. Masyarakat juga menggelar makan bersama dengan menu nasi jagung dan lalapan khas acara ngasa. Masyarakat juga membuatsadukun(segenggam nasi jagung yang dibungkus daun pisang)untuk disebarkan disawah dengan harapan agar dusun Jalawastu selalu dilimpahkan kesuburan dan mendapatkan hasil pertanian yang melimpah dari Tuhan YME. Gelaran Ngasa ini dihelat setiap satu tahun sekali. Ngasta pertama kali digelar sejak masa pemerintahan Bupati Brebes IX Raden Arya Candra Negara.Ngasa merupakan wujud rasa syukur kepada Batara Windu Buana sebagai pencipta alam. Ngasa juga sebagai bentuk kebaktian kepada Batara. Ngasa merupakan tradisi yang tidak terlepas dari akulturasi budaya Islam, Hindu dan Budha yang diwariskan oleh nenek moyang masyarakat Jalawastu.Upacara adat Ngasa ini telah dilaksanakan oleh warga secara turun-temurun sejak ratusan tahun silam. Selain Batara Windu Buana, upacara ini juga sebagai simbol tanda terimakasih kepada Tuhan atas segala nikmat yang telah dikaruniakan. Bentuk upacara ini seperti upacara selamatan lainnya, yaitu sedekah Laut dan sedekah bumi, namun dilakukan di dataran tinggi, sehingga masyarakat menyebutnya dengan Sedekah Gunung. Batara Windu Buanamemiliki ajudan yang bernama Burian Panutus. Beliau sangat loyal terhadap Batara Windu Buana, dan semasa hidupnya tidak makan nasi serta lauk pauk dari hewan yang bernyawa.Oleh karena itu, masyarakat Dusun Jalawastu mengikuti apa yang dilakukan Burian Panutus sebagai abdi Batara Windu Buana dengan tidak memakan nasi dan lauk pauk berupa daging atau ikan. Makanan pokok masyarakat Dusun Jalawastu berupa jagung yang ditumbuk halus serta dedaunan (khususnya daun reundeu yang diyakini hanya tumbuh di Gunung Kumbang), umbi-umbian, pete, terong, sambal. Pola makan vegetarian ini telah dilakukan selama berabad-abad. Selain itu, masyarakat Jalawastu juga membangun rumah dengan berdinding kayu dan beratap seng, tidak menggunakan atap genteng dan menggunakan semen/keramik. Peralatan makan juga tidak menggunakan alat yang terbuat dari bahan kaca. Piring, sendok, cepon dan rantang yang digunakan mereka terbuat dari seng atau dedaunan. Masyarakat Jalawastu juga tidak menanam bawang merah, tidak menanam kedelai dan memelihara hewan ternak tertentu, seperti kerbau, domba dan angsa. Sebagian masyarakat percaya jika ada salah satu warga Jalawastu yang melanggar ketentuan tersebut, maka ada bencana yang akan menimpa.