Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Upacara Tradisional: Tradisi Sedekah Bumi Desa Plumutan Kabupaten Semarang/Dekah Deso Desa Plumutan - Semarang, Jawa Tengah |
Sejarah:
Upacara tradisi Sedekah bumi atau dekah deso di Desa Plumutan Kecamatan Bancak, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah adalah salah satu tradisi yang dilakukan secara turun temurun sejak nenek moyang. Upacara tersebut dilakukan setiap tahun sekali. Maksud dilaksanakannya Upacara Tradisi Sedekah Bumi tersebut adalah sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT.
Pada acara tradisi Sedekah bumi di Desa Plumutan selalu diikuti dengan kesenian “tayuban” . Acara tayuban ini tidak dapat tergantikan dengan hiburan lainnya. Karena konon katanya “tayuban” merupakan kesukaan nenek moyang. Oleh karena tradisi sedekah bumi tersebut di persembahkan kepada nenek leluhur desa plumutan atau sering di sebut dengan nama “ simbah wali bayi wali ragas rogo, oleh karena itu kesenian tayuban ini tidak dapat ditinggalkan.. Apabila acara ini di tinggalkan maka seluruh warga Desa Plumutan akan mendapatkan “paceklik” dan sebagian atau seluruh warga akan mendapatkan mara bahaya, untuk itu dari dulu sampai sekarang tradisi sedekah bumi dan tayuban di Desa Plumutan tidak pernah dilupakan.
Deskripsi:
Upacara Tradisi Sedekah Bumi atau lebih dikenal dengan sebutan dekah deso dilalakukan oleh masyarakat Desa Plumutan, Kecamatan Bancak, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Upacara sedekah bumi tersebut merupakan tradisi yang dilaksanakan secara turun temurun dari nenek moyang. Upacara ini dilakukan sekali dalam setahun namun demikian waktu pelaksaan upacara di setiap dusun berbeda-beda. Tergantung kapan dusun tersebut mengalami panen raya dan kemudian baru melaksanankan tradisi sedekah bumi tersebut. Upacara Tradisi Sedekah Bumi tersebut dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa atas limpahan rizki yang diterima oleh masyarakat Desa Plumutan.
Sebelum upacara tradisi sedekah bumi atau dekah deso dimulai maka dilakukan persiapan yang berhubungan dengan perlengkapan yang diperlukan dalam ritual dekah deso. Adapun perlengkapan yang harus disiapkan antara lain : Tumpeng (nasi kerucut), ayam panggang,ingkung, nasi ambengan, nasi golong, jenang abang putih (bubur merah dan putih), sego liwet (nasi liwet), jajanan kecil khas daerah. Semua perlengkapan tersebut mempunyai pasangan dan makna sendiri-sendiri, misalnya :
1. Ayam panggang berpasangan dengan tumpeng, mempunyai makna yaitu ditujukan kepada seluruh manusia yang hidup agar diberi keselamatan, kesehatan, panjang umur, banyak rizki, khususnya warga Desa Plumutan.
2. Ayam ingkung berpasangan dengan nasi ambengan, mempunyai makna ditujukan kepada semua leluhur agar diberi ampunan atas dosa-dosa yang mereka perbuat semasa hidupnya, khususnya bagi leluhur Desa Plumutan.
3. Nasi golong, di sini tidak berpasangan, mempunyai makna yaitu dijukan kepada danyang (cikal bakal pendiri desa) dalam hal ini “simbah wali bayi wali ragas rogo ito” Desa Plumutan.
4. Jenang abang putih mempunyai makna yaitu ditujukan kepada leluhur kedua orang tua yang sudah meninggal.
5. Sego liwet mempunyai makna yaitu dijukan kepada danyang yang mbau rekso (penjaga keselamatan) tempat yang mau dijadikan ritual dekah deso (dalam hal ini rumah kepala dusun)
6. Jajanan kecil dan makanan khas daerah, mempunyai makna sebagai ungkapan rasa kasih sayang kepada anak-nak kecil warga Desa Plumutan dalam hal ini sering disebut bocah angon.
Setelah semua perlengkapan selesai dipersiapkan kemudian semua perlengkapan upacara dibawa ke rumah kepala dusun untuk di do’akan oleh seorang pemuka agama atau sesepuh desa setempat. Usai dido’akan kemudian perlengkapan upacara diserahkan kembali kepada masyarakat yang membuatnya. Nasi tumpeng dan jajanan khas daerah yang sudah dido’akan oleh sesepuh kampong atau pemuka agama setempat kemudian dimakan secara beramai-ramai oleh masyarakat yang merayakan acara sedekah bumi tersebut. Namun ada juga sebagian masyarakat yang membawanya pulang untuk dimakan beserta sanak keluarganya di rumah masing-masing. Dan pada akhir acara biasanya para petani menyisakan nasi, kepala ayam dan ceker ayam, ketiganya dibungkus kemudian diletakkan di sudut-sudut petak sawahnya.
Prosesi upacara Tradisi Sedekah Bumi di Desa Plumutan diakhirii acara hiburan yaitu pementasan seni Tayub atau Tayuban. . Seni Tayuban menggambarkan penyambutan para tamu atau pimpinan yang dihormati oleh masyarakat. Penyambutan itu dilakukan oleh para pemain wanita dengan cara menyerahkan sampur (selendang) atas petunjuk pengarih. Tamu yang menerima sampur akan mendapat kehormatan untuk menari bersama-sama. Acara tayuban ini tidak bisa tergantikan oleh hiburan lainnya. Karena konon katanya acara Tayuban sudah dilakukan oleh nenek moyang Desa Plumutan. Apapabila acara ini ditinggalkan maka seluruh warga Desa Plumutan aakan mengalami “paceklik” dan sebagian atau seluruh warga akan mendapatkan marabahaya.
Adapun makna dari upacara tradisi Sedekah Bumi atau dekah desodi Desa Plumutan adalah merupakan salah satu simbol bagi masyarakat Desa Plumutan khususnya petani untuk menunjukkan rasa cinta kasih sayang dan sebagai penghargaan manusia atas bumi yang telah memberikan penghidupan bagi manusia. Di samping itu juga meupakan salah satu bentuk ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karunia yang telah dilimpahklan kepada ma