Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaKesenian Tradisional Balajad - Semarang, Jawa Tengah
Sejarah: Kesenian Balajad tumbuh dan berkembang di Dusun Kalitangi, Desa Genting, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Menurut informasi dari Mudakir, pimpinan kelompok kesenian balajad di Dusun Kalitangi ,menuturkan bahwa balajad mulai dikenal oleh warga Genting sekitar tahun 1950-an. Kesenian tersebut berasal dari Salaman Magelang, yang diperkenalkan oleh dua warga setempat, Abdurrahman dan Nasrodin yang nyantri di Magelang. . Deskripsi: Balajad merupakan kesenian tradisonal yang lahir dan berkembang di Dusun Kalitangi, Desa Genting, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang. Kesenian balajad merupakan jenis kesenian hasil akulturasi dua budaya, yaitu Arab dan Jawa. Budaya Arab diwujudkan melalui musik rebana, kostum balajad yang serupa jubah dan serban penutup kepala, serta pola gerak ala tarian Timur Tengah. Sementara, budaya Jawa tampil dalam wujud tari ndayakan, mbaong, serta musik kentongan, bende, dan kendang. Kesenian balajad melibatkan hampir seluruh warga DusunKalitangi yang biasa ditampilkan pada saat acara merti dusun atau syukuran di dusun tersebut. Kesenian balajad bernuansa religi yang menggambarkan empat sifat manusia yang harus dikendalikan agar sesorang mendapatkan jatidirinya. Keempat sifat manusia tersebut adalah mutmainah, aluamah, amarah dan sufiyah. Empat sifat manusia itu digambarkan lewat empat kelompok yang tampil yakni kelompok dengan pakaian seperti masyarakat Timur Tengah (balajad), kelompok yang bertelanjang dada (grayak), pemain bola api, dan terakhir adalah kelompok binatang yang diadegankan oleh beberapa orang berkostum binatang seperti singa dan monyet. Pada saat pementasan Kesenian Tradisional Balajad diawali dengan masuknya pemain yang memkai pakaian berjubah dan berkafieh dengan kumis dan cambang ke lapanagan desa. Mereka dengan serempak menggerakkaan kaki, kiri-kanan sambil berucap berulang-ulang, “Ya umar, ya ubbrus, Ya umar, ya ubrus.” Kemudian, masuklah sekelompok pembawa obor, kelompok grayak, dan pemeran hewan (kera, mbaung/singa bermuka aneh, dan binatang lain) yang berlaku liar. Mereka bergerak dengan diiringi irama musik yang ditabuh dari sisi lapangan."Ya umar, ya ubrus. Ya umar, ya ubrus...." Kalimat itu terus diulang-ulang, seperti mantra, seperti rapal. Kelompok pemain yang berjubah, yang disebut kelompok balajad, membentuk lingkaran. Mereka mengelilingi kelompok grayak, kelompok hewan, dan pembawa obor. Dengan diiringi suara tetabuhan yang rancak ditingkahi kobaran bola api menciptakan suasana mistis.. Balajad dari kata "bala" dan jadah", yang berarti kembali ke jalan yang benar. Begitulah paling tidak keyakinan para pemain balajad. Pada saat pementasan, para seniman balajad beratraksi, berjumpalitan, dan menampilkan berbagai aksi yang mencengangkan. Mulai dari permainan tari-tarian ndayakan yang energetik, permainan api, demonstrasi kekebalan layaknya kuda lumping, hingga pemain mbaong ndadi yang nggegirisi. Seperti halnya beberapa kesenian tradisi, di pentas itu beberapa orang sering menjadi kesurupan. Kondisi itu merupakan gambaran kekacauan apabila keempat sifat manusia tersebut tak bisa dikendalikan Ada suatu pamali bagi penonton agar tidak mencibir permainan dalam pertunjukan balajad. Bila ada penonton yang melanggar pamali tersebut maka pemain dari kelompok grayak atau binatang yang ndadi (trance) bakal mengejarnya. Kejaran pemain yang ndadi hanya dapat dihentikan oleh sang “pelatih” atau pawang. Selanjutnya mereka diajak kembali ke arena pemainan.Pertunjukan balajad diakhiri dengan kemanunggalan dari berbagai kelompok tersebut. Kesenian balajad sebagai ekspresi dari seni kerakyatan dapat dijadikan sebagai wahana pencerahan, wulang reh, ajaran tentang baik dan buruk, serta ajaran benar dan salah.