Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaKerajinan Bordir - Demak, Jawa Tengah
Sejarah: Desa Jungsemi, Keacamatan Wedung. Kabupaten Demak, Jawa Tengah terkenal akan keajinan bordir. Salah satu perajin bordir di desa tersebut adalah Ibu Nursekhah yang juga sebagai ketua dari usaha bersama “Nur Jaya Sakti”. Usaha border Ibu Nursekhah mulai dikembangkan sejak lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Berawal dari usaha konveksi yang mengahasilkan baju muslim, baju kemeja, kerudung dan jilbab, Ibu Nursekhah merekrut tetangga kana kirinya kemudian Ibu Nursekhah mengembangkan usahanya dengan membuat border. Dan dengan dibantu suami dan juga merekrut beberapa tetangga maka usaha bordir milik Ibu Nursekhah mengalami perkembangan yang cukup pesat. Apalagi setelah ada bantuan Pemerintah Kabupaten Demak berupa mesin border, maka usaha border milik Ibu Nursekah bertambah maju dan besar. Deskripsi: Bordir adalah suatu kerajinan yang berupa hiasan pada baju ataupun kerudung. Sebagai bahan baku bordir adalah kain dan benang. Bordir merupakan salah satu hasil kerajinan yang dihasilkan dari desa Jungsemi, Kecamatan Wedung, kabupaten Demak, Jawa Tengah. Salah satu pengusaha border di Desa Jungsemi adalah Ibu Nursekhah. Ibu Nursekhah memulai usahanya sejak lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Usaha bordir Ibu Nursekhah mengalami perkembangan yang cukup pesat, apalagi setelah beliau mendapat pinjaman dari Pmerintah kota Demak yang berupa satu unit msin border kompli dengan perangkat computer. Maka usaha Ibu Nursekhah maju dan besar. Selain membuat atau memproduksi berbagai jenis kemeja , baju koko, busana muslim , kerudung dan jilbab paris ,untuk dipasarkan sendiri, Ibu Nursekhah juga menerima jasa border untuj berbagai motif bagi pengusaha konveksi di sekitar desa Jungsemi,bahkan ada juga yang datang dari Jepara dan Kudus. Sehingga tidak mengherankan jika kita menyambangi rumahnya, di ruangan khusus tempat usahanya banyak berserakan kain bakal baju dan kerudung yang telah di beri motif bordir dengan berbagai ragam motif dan gambar. Selain itu banyak pula karyawannya yang mayoritas perempuan mengerjakan tugasnya masing-masing, ada yang menjahit , menyetrika dan juga mengepak barang yang siap dikirim. Dulu sebelum usahanya besar seperti sekarang karyawannya hanya beberapa orang saja yang diambil hanya tetangga kiri kanan saja , namun dengan semakin besar usahanya karyawannya berkembang menjadi 50 orang. Selain bekerja di rumahnya , mereka banyak pula yang mengerjakan pekerjaan konveksi ini di rumah masing-masing dengan cara mengambil bahan dan dikerjakan di rumah setelah jadi antarkan dan mengambil bahan lagi. Sebenarnya Ibu Nursekhah maupun Bapak Nahrowi ingin mengembangkan usaha kerajinan bordir ini lebih luas lagi, sehingga ia mampu menyerap tenaga kerja yang lebih banyak lagi , Namun karena terkendala modal niat inipun belum terlaksana, modal yang ia punyai sudah ia wujudkan dalam bentuk mesin bordir berkepala dua belas. Oleh karena itu jika bahan baku seperti kain dan benang habis dia harus memutar otak agar usaha tetap jalan dengan cara mengefektifkan bagian pemasaran. Selama ini untuk pemasarannyapun tidak ada kendala justru permintaan selalu bertambah . Selain dipasarkan di pasar Kliwon Kudus hasil produksinya juga dipasarkan ke Pasar Klewer Solo , namun banyak pula pedagang yang merupakan tangan kedua yang mengambil barang hasil produksinya untuk dipasarkan di luar pulau Jawa khususnya daerah Indonesia bagian timur seperti Bali, Nusa Tenggara, Timor , Maluku dan Papua.