Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Grebeg Gunung Kendalisodo - Semarang, Jawa Tengah |
Sejarah:
Grebeg diperkenalkan oleh raja Demak sejak Raden Patah atau panembahan Jimbun yang memerintah kerajaan Demak. Grebeg dalam bahasa Jawa mempunyai makna “Suara Angin Menderu” (H) Anggerebeg adalah mengiringi Raja, Pembesar atau Pengantin.. Sedangkan Kendalisodo berasal dari kata Kendali dan Sada atau Kundala dan Husada. Kendalisada dipercaya sebagai tempat bersemayamnya Begawan Kapiwara (Hanoman) yang sering disebut Satriyo Kang Pinandito. Grebeg Gunung Kendalisodo adalah Prosesi Ritual yang dilaksanakan pada bulan Suro tanggal 10. Sebagai puncak acaranya. Grebeg Gunung Kendalisodo dilaksanakan dalam rangka melestarikan budaya Jawa.
Adapun sejarah dilaksanakannya Grebeg Gunung Kendalisodo dimulai dengan Sedekah Bumi yang dilakukan oleh masyarakat sekitar Gunung Kendalisodo pada tahun 1997, bertepatan dengan tanggal 10 Suro 1419. Sedekah Bumi tersebut dilaksanakan dalam rangka Ha Memayu hayuning Bawono . Pada waktu itu masyarakat Dusun yang dipimpin oleh Eyang marsidi , selaku juru kunci sendang Penyangklingan dan pertapaan Gunung Kendalisodo , warga masyarakat dengan sukarela membawa aneka sesaji dan jajan pasar ( bauh buahan dan , panganan tradisional ) pertemuan tersebut dilakukan di tempat Kepala dusun Karang joho , tiap kepala keluarga diwakili oleh satu orang , sambil musyawarah masalah sedekah bumi pada tahun yang akan datang. Kemudian dari tahun ke tahun acara tersebut mengalami perkembangan hingga tahun pada 2002 acara Sedekah Bumi tersebut berubah menjadi Grebeg Gunung Kendalisodo. Sampai sekarang acara tersebut semakin berkembang dengan melibatkan Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang.
Deskripsi:
Grebeg Gunung Kendalisodo adalah rangkaian prosesi upacara ritual,kirap,karnaval, serta sedekah bumi kendalisodo. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Dusun Karangjoho, Desa Samban, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, tepatnya di sendang Panyangklingan. Grebeg Gunung Kendalisodo diselenggarakan tiap satu tahun sekali yaitu tiap tanggal 10 Suro. Pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan Grebeg Gunung Kendalisodo adalah seluruh lapisan masyarakat sekeliling Kendalisodo, masyarakat Kabupaten Semarang dan masyarakat sekitarnya. Dalam perkembangannya Grebeg Gunung Kendalisodo melibatkan instansi pemerintah setempat.
Visi dari pelaksanaan Grebeg Gunung Kendalisodo adalah mendudukkan kembali kesadaran dan pemahaman bahwa kebudayaan adalah dasar dari segi kehidupan umat manusia. Sedangkan misi Grebeg Gunung kendalisodo yaitu mengangkat kebudayaan daerah untuk bisa saling berasimilasi sehingga terwujudnya suatu kebudayaan nasional sebagaimana dimaksud oleh Bung Karno dalam Tri sakti. Tujuan Grebeg Gunung Kendalisodo adalah melestarikan budaya daerah menuju kebudayaan nasional.
Adapun prosesi pelaksanaan Grebeg Gunung Kendalisodo dari tahun ke tahun mengalami perubahan menuju kearah yang lebih baik dengan tidak merubah visi, misi, dan tujuan dilaksanakannya Grebeg Gunung Kendalisodo. Tiga hari menjelang prosesi upacara panitia melaksanakan seminar budaya. Adapun rute kirab dan karnaval yaitu dari dusun Prampelan dan mengelilingi Gunung Kendalisodo. Grebeg Gunung kendalisodo diakhiri dengan memperebutkan buah dan tumpeng oleh pengunjung yang jumlahnya ribuan.