Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaKomantanan/Manten Sampang Madura - Sampang, Jawa Timur
Sejarah: Di dalam setiap budaya di berbagai daerah umumnya memiliki budaya atau tradisi yang terkait dengan daur hidup. Daur hidup ini dalam masa-masa transisi seringkali masyarakat memiliki tardisi yang telah diwarisi sejak lama dari para leluhur. Masa-masa transisi umpamanya dari bayi ke remaja untuk yang laki-laki ada upacara sunatan, atau dari remaja ke dewasa dengan ditandai perkawinan, kelahiran bayi atau kematian. Salah satu upacara dalam daur hidup adalah upacara perkawinan. Dalam bahasa Madura, dan khususnya upacara perkawinan ini disebut dengan upacara komantanan. Budaya atau tradisi Komantanan adalah pernikahan (Jawa: mantenan) warga Madura tempo dulu. Sampang telah lama memiliki dan mewarisi tradisi komantanan. Namun seiring dengan perkembangan jaman dan masuknya modernisasi mulai menggerus eksistensi budaya Komantanansehingga tradisi ini saat sekarang hampir punah. Untuk melestarikan kebudayaan tersebut agar tidak punah, di setiap acara pernikahan disuguhkan adat prosesi mantenan budaya tempo dulu. Diantaranya proesi pembacaan pantun atau macopat, seserahan mahar dari mempelai (Jawa: manten) pria, pembacaan salawat nabi, iring-iringan musik hadrah jidor, serta acara sungkeman mempelai pria maupun wanita. Deskripsi: Tradisi adat istiadat di Madura terus dijaga kelestariannya supaya tidak ada pihak lain yang mengklaim bahwa itu miliknya. Untuk itu masyarakat Sampang membiasakan untuk menggelar kegiatan seni dan budaya yang telah menjadi kebiasaan di masyarakat tersebut. Para tokoh adat, budaya, dan kesenian Sampang, Madura berusaha membuat hak paten tradisi budaya nenek moyang warisan leluhur dari Madura. Salah satu di antaranya, budaya Komantanan atau mantenan pernikahan warga Madura tempo dulu. Ketika budaya Komantatan adat Madura dirasa hampir punah, sebagai untuk melestarikan kebudayaan tersebut di setiap acara pernikahan disuguhkan adat prosesi mantenan budaya tempo dulu. Misalnya prosesi pembacaan pantun atau macapat, seserahan mahar dari mempelai (Jawa: manten) pria, pembacaan salawat nabi, iring-iringan musik hadrah jidor, serta acara sungkeman mempelai (Jawa: manten) pria maupun wanita. Di samping itu dalam komantanan ada tradisi Mukkak Glabar atau Mukkak Blabar. Tradisi mukkak glabar merupakan tradisi masyarakat Madura saat melakukan resepsi pernikahan. Dalam tradisi adat ini, penganten pria harus bisa melewati tujuh tirai bendera atau “glabar” dan mampu menjawab pertanyaan berbeda dari pasangan calon pengantin perempuan. Tradisi ini dilakukan sebelum pengantin pria memasuki pekarangan rumah mempelai perempuan. Tradisi mukkak glabar yang pernah ada di Madura ini sebenarnya merupakan simbol bagi kedua mempelai, bahwa untuk mengarungi sebuah rumah tangga harus melalui proses yang sangat rumit. Hakikatnya berumah tangga itu kan memadukan dua hati untuk membangun masa depan. Jika tidak mampu menembus berbagai rintangan, maka besar kemungkinan rumah tangga mereka akan cepat goyah, Di Sampang, ataupun di Madura pada umumnya, tradisi mukkak glabar dalam sebuah pernikahan sudah jarang dilakukan, sehingga generasi muda Madura sudah banyak tidak mengetahui tentang tradisi tersebut. Padahal di dalam tradisi itu mengandung-nilai filosofis kehidupan yang sangat mendalam.