Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaKerajinan Batik Kliwonan: Kerajinan Batik Sragen - Masaran, Kab. Sragen, Jawa Tengah
Awal mulanya batik Sragen identik dengan batik Surakarta, terutama di era 1980-an, sebab para pionir kerajinan batik di Sragen umumnya pernah bekerja sebagai buruh batik di perusahaan milik juragan batik Surakarta. Namun kemudian, batik Sragen berhasil membentuk ciri khas yang berbeda dari gaya Yogyakarta dan Surakarta. Batik gaya Yogyakarta umumnya memiliki dasaran (sogan) putih dengan motif bernuansa hitam atau warna gelap. Corak Yogyakarta ini biasa disebut batik latar putih atau putihan. Batik gaya Surakarta biasanya memiliki warna dasaran gelap dengan motif bernuansa putih, yang biasa disebut batik latar ireng. Batik Yogyakarta dan Surakarta juga lebih kuat dalam mempertahankan motif gaya kraton yang telah menjadi patokan baku, misalnya motif parang, kawung, sidodrajat, sidoluhur, dan lain sebagainya. Batik Pekalongan yang merupakan batik dari daerah pesisir utara Jawa biasanya berlatar warna cerah mencolok. Motif batik yang digoreskan umumnya berukuran kecil-kecil dengan jarak yang rapat. Beda dengan batik Sragen, batik Sragen lebih kaya dengan ornamen flora dan fauna. Ada kalanya dikombinasi dengan motif baku. Jadilah, motif tumbuhan atau hewan yang disusupi motif baku seperti parang, sidoluhur, dan lain sebagainya. Akhir-akhir ini beberapa pengrajin batik mulai mencoba menelurkan motif baru yang isinya merekam aktivitas keseharian masyarakat. Guratan motif batik Sragen saat ini cenderung menyiratkan makna secara tegas. Jauh lebih lugas ketimbang corak Yogyakarta maupun Surakarta. Lahirnya motif tersebut tidak lepas dari pengaruh karakter masyarakat Sragen yang pada dasarnya terbuka dan blak-blakan dalam mengekspresikan isi hatinya. Kerajinan batik Sragen di Desa Kliwonan terletak sekitar 12 km sebelah selatan pusat kota Kabupaten Sragen, atau 15 km sebelah timur laut kota Surakarta. Sebagian besar pengrajin batik tinggal di Desa Kliwonan. Kuantitas produksi batik yang dihasilkan pengrajin Kliwonan pun paling besar. Oleh sebab itu, kawasan penghasil batik di Sragen kemudian lebih dikenal dengan sebutan sentra batik Kliwonan. Pemerintah Kabupaten Sragen menetapkan sentra batik itu sebagai kawasan wisata terpadu, yang dinamakan Desa Wisata Batik Kliwonan. Desa Kliwonan sekaligus ditetapkan menjadi pusat pengembangan, pelatihan, dan pemasaran batik. Batik Kliwonan Sragen ada 2 macam yaitu batik tulis dan batik cap. Proses pembuatan batik Kliwonan Sragen pada dasarnya sama dengan proses pembuatan batik di daerah lain, yang membedakan adalah motif batik. batik Sragen lebih kaya dengan ornamen flora dan fauna, yang dikombinasi dengan motif baku. Jadilah, motif tumbuhan atau hewan yang disusupi motif baku seperti parang, sidoluhur, dan lain sebagainya. Juga adanya motif baru yang yang isinya tentang aktivitas keseharian masyarakat Sragen yang terbuka, menyiratkan makna yang tegas. Motif-motif tersebut kemudian di polakan pada kertas transparan yang kemudian akan dipakai sebagai pola dalam membuat batik. Proses pembuatan batik Sragen ini diawali dengan menyiapkan kain batik dari bahan kain mori, menggambar motif batik atau pola di kain dengan pensil, kemudian membatik atau menggoreskan canting dengan malam dan pewarnaan dengan cara pencelupan. Setelah proses terbut dilalui maka selesailah proses pembuatan batik.