Dewa marah kepada penduduk (Dewa Siwa) supaya keadaan aman masyarakat diminta untuk memberi sesaji pada dewa yang bersemayam di kawah Gunung Bromo. Jika tidak, dewa semakin marah. Agar dewa tidak marah, salah satu anak dari Rara Anteng Jaka Tengger dikorbankan.
Versi lain, Rara Anteng Jaka Tengger lama tidak punya keturunan, lalu berdoa dan biberi anak dengan syarat anak bungsunya harus dijadikan tumbal. Sehingga Rara Anteng dan Jaka Tengger produk anak terus jangan sampai anaknya jadi bungsu. Anak ke 25 jadi bungsu akhirnya jadi korban.