Dikker adalah salah satu genre musik tradisi Bawean, Gresik, Jawa Timur dengan alat musik utama yaitu rebana. Ukuran rebana pada musik Dikker tergolong besar, berdiameter 80 cm sehingga menghasilkan suara bass yang cukup unik dan berkarakter. Syair lagu yang dilantunkan mengambil dari kitab barzanji dan shalawat dalam tradisi masyarakat Islam yang dimainkan dalam tempo yang lambat. Sebuah grup kesenian Dikker biasanya dipimpin oleh seorang sesepuh kampung yang sekaligus bertugas menunjuk para pemainnya. Maka dari itu tidak semua orang dapat memainkan alat musik ini karena tergantung dari keputusan sesepuh kampung. Keunikan lain dari kesenian Dikker ini yaitu hanya dimainkan atau ditampilkan sekali dalam satu tahun yaitu pada saat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Jumlah pemain dalam sebuah grup sekitar 6 orang yang semuanya memainkan rebana. Selain memainkan rebana, para pemain ini juga berperan sebagai vokalis. Biasanya para pemain Dikker adalah laki-laki dengan mengenakan baju koko, sarung, dan peci. Dikker dimanikan dengan posisi penabuh duduk berjajar. Dalam sebuah pementasan Dikker, mereka akan memainkan alat musik dan melantunkan syair terlebih dahulu untuk mengundang orang agar mau datang ke tempat pertunjukan. Setelah masyarakat luas atau penonton berkumpul, barulah penampilan utama dari sajian kesenian ini ditampilkan secara utuh.