Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | KERCENGAN - GRESIK, JAWA TIMUR |
Kercengan merupakan jenis seni pertunjukan tradisional sejenis hadrah yang ada di Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur. Kata "kercengan" sendiri diambil dari bunyi yang keluar dari alat musik rebana yang digunakan untuk mengiringi tarian pada kesenian tersebut. Harmoni pada musik Kercengan dihasilkan dari berbagai jenis tabuhan rebana di antaranya; pukping, lampangan, nyellae, kalutuk, thuplang, cor-coran, bass raje, dan bass kennek di mana kedelapan jenis tabuhan tersebut mempertegas perbedaan Kercengan dengan kesenian hadraj dari daerah lain. Pemain Kercengan terdiri dari penabuh, vokalis, peruddat (penari) perempuan. Pada awalnya pemain kercengan adalah laki-laki baik penabuh maupun penari. Namun saat ini telah ada grup-grup Kercengan yang pemainnya melibatkan peran wanita yang biasanya bertindak sebagai vokalis dan ada juga grup Kercengan yang semua pemainnya adalah wanita baik penabuh maupun peruddat-nya. Irama musik tabuhan pada Kercengan memiliki tempo lambat hingga cepat yang berbeda pada setiap grup dan daerah di mana kelompok Kercengan tersebut tumbuh dan berkembang. Tidak ada aturan pasti mengenai jumlah pemain Kercengan, tetapi biasanya jumlah pemain sekitar 22-24 orang, terdiri dari 12 orang peruddat (penari), 9 orang pemukul rebana, dan 3 orang vokalis. Ada juga jumlah peruddat (penari) dalam sebuah grup Kercengan berjumlah antara 15-30 orang. Susunan duduk pada saat tampil penari adalah bershaf-shaf, bisa 1, 2, atau 3 shaf tergantung jumlah pemain yang tampil. Pemain biasanya berusia antara 15 sampai 40 tahun.
Gerakan-gerakan pada Kercengan banyak diinspirasi oleh gerakan sholat dan huruf hijaiyah (huruf Arab). Seni Kercengan mengutamakan gerak tangan, yaitu tepuk tangan dan tepuk dada, di mana 2 unsur gerak tersebut yang menjadi unsur dasar dalam tarian. Sekilas kesenian ini mirip dengan tari Saman dari Aceh, hanya saja penari Kercengan membawa alat musik sambil menari mengikuti alunan alat musik sedangkan pada tari Saman semua pemainnya hanya murni menari tanpa memainkan alat. Perbedaan lainnya terletak pada kecepatan gerak tangan, di mana gerak tari Saman cenderung lebih cepat dan rancak jika dibandingkan dengan gerak tari pada Kercengan. Saat ini (2018) ada sekitar 40-an grup kesenian Kercengan yang ada di Pulau Bawean di antaranya; Bhei-Bhei, Elbas An-Nur, Grup Zamrah, Mambaus Sholah, Al Mukkaramah, Mambaul Falah dll. Bahkan saat ini tumbuh grup kesenian Kercengan di Malaysia yang pemainnya juga merupakan orang Bawean yang merantau di negara tersebut.
Kostum atau pakaian yang digunakan oleh para pemain biasanya berwarna cerah seperti oranye, merah, hijau, ungu, dan putih. Para pemain wanita menggunakan jilbab, kaos tangan dan yang laki-laki biasanya menggunakan kopiah. Syair-syair yang dilantunkan banyak diambil dari kitab barzanji dan puji-pujian kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad serta ajaran syariat Islam karena memang kesenian ini merupakan pertunjukan bernafaskan seni Islami. Seiring berjalannya waktu, syair-syair pada kesenian ini telah mengalami perkembangan yaitu dengan syair-syair berbahasa Bawean dan Bahasa Indonesia sehingga menjadikan lantunannya menjadi lebih beragam.
Kesenian ini biasanya tampil pada saat-saat tertentu seperti pengajian, perayaan tahun baru hijriyah, Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj, acara yang digelar oleh pemerintah daerah, hajatan warga yang dihelat oleh masyarakat umum. Adapun tujuannya dimaksudkan penyambut dan memeriahkan acara dan syiar agama Islam tentunya. Grup-grup Kercengan tidak hanya tampil di sekitar Pulau Bawean saja namun juga telah tampil di sekitar Kabupaten Gresik dan sekitarnya. Salah satu pemain Kercengan dan penggerak kesenian ini salah satunya adalah Hamzah (32 tahun) yang mengelola grup Kercengan yang berada di Dusun Teguh, Gunungteguh, Sangkapura, Bawean, Gresik, Jawa Timur.