Dhungka (Thungka) merupakan seni pertunjukan yang menggunakan ronjhengan (lesung penumbuk padi) sebagai alat musik utamanya. Pada umumnya ronjhengan yang digunakan berbentuk persegi panjang dengan alat pemukul dari kayu yang bernama genthong (alu). Kesenian ini dimainkan oleh beberapa orang perempuan yang bertindak sebagai pemukul sekaligus vokalis/penyanyi. Irama musik yang rancak pada kesenian Thungka menggambarkan suasana musim panen yang sangat ditunggu-tunggu oleh para petani dengan riang gembira. Syair-syair lagu dalam kesenian ini adalah pujian-pujian terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa. Masyarakat Bawean mempertunjukan kesenian Thungka dalam rangka hajatan perkawinan dan menyambut tamu kehormatan yang berkunjung ke Bawean. Dalam rangka hajatan perkawinan, kesenian Thungka dipergelarkan selama 7 hari berturut-turut menjelang pesta pernikahan. Kesenian Thungka dilombakan dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan oleh masyarakat Desa Tanjung Ori, Kecamatan Tambak, Bawean. Dilihat dari alat pemukul dan lesung penumbuk padinya, kesenian ini memiliki kesamaan dengan gejog lesung pada masyarakat Jawa Tengah dan Yogyakarta.