Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Upacara Nulaki - Purworejo, Jawa Tengah |
A. Latar Belakang
`Desa Gunung Condong merupakan salah satu desa di Kecamatan Bruno, yang tadinya berupa hutan belantara. Sekitar tahun 1.700 Masehi datang sekelompok orang dari kerajaan Mataram Islam ke Desa Gunung Condong. Mereka tiba di Desa Gunung Condong yang masih berupa hutan belantara, dan membukanya menjadi sebuah desa. Adapun sekelompok orang dari Kerajaan Mataram Islam tersebut adalah : R. Wangsajaya sebagai pemimpin didampingi oleh beberapa orang pengikut setianya antara lain : R. Kertotomo atau dengan nama lain yang lebih dikenal dengan R. Jaya Taruna atau Eyang Kebok, R.Kyai Dalem beliau sebagai penasehat spiritual, Rr. Kemuning atau Eyang Renik, R. jati Mulya, Eyang Guna, eyang Kyai Wingit, R. Patraleksana dan R. Patrajaya ( R. Patraleksana dan R. Patrajaya adalah putra Wangsajaya), dan nama-nama yang laintidak dikenal. Nama-nama tersebut diatas kemungkinan nama samaran. Nama Gunung Condong ini diambil karena menyesuaikan dengan kondisi desa yang berupa perbukitan. Setelah desa terbentuk, maka dibentuklah pemerintahan di desa Gunung Condong. Lurah pertama di Gunung Condong adalah R. Patraleksana putra dari R. Wangsajaya.. Dari keturunan lurah R. Wangsajaya ini banyak yang menjadi lurah di Gunung Condong
Dalam membuka hutan menjadi sebuah desa R. Wangsajaya dan rombongannya, mendapat gangguan dari bangsa lelembut, namun dengan keteguhan dan ketabahan serta kesabaran R. Wangsajaya dibantu oleh R. Kyai Dalem beliau memohon petunjuk dari Allah SWT agar diberi keselamatan dalam membuka hutan menjdi sebuah desa, akhirnya beliau mendapat petunjuk dari Allah SWT agar membuat selamatan untuk nulak balak pada hari Kamis Wage atau hari Senin Wage bulan Sura (Muharram). Selamatan yang harus dilaksanakan yaitu dengan cara menyembelih 2 (dua) ekor kambing tulak (kambing kendit) kalau tidak ada, bisa dengan kambing berbulu hitam mulus dan 2 (dua) ekor ayam tulak. Satu ekor kambing dan satu ekor ayam disembelih disebelah timur (sekarang dusun Karangsari) sedangkan yang satunya lagi disembelih di sebelah barat (sekarang dusun Krajan) darah kambing dan darah ayam tersebut harus dikubur menjadi satu lubang dipertigaan atau perempatan jalan dimana hewan tersebut disembelih. Ayam yang telah dipotong dipotong tersebut terus dipanggang untuk selamatan dilengkapi dengan nasi tumpeng untuk kenduri di kedua tempat tersebut. Sedangkan daging kambing terus dimasak dan tidak boleh dicicipi, pada siang/sore harinya digunakan untuk selamatan yang dilengkapi dengan nasi golong/giling, dikandung maksud agar semua golong gilig menjadi satu untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan. Setelah selamatan dilaksanakan akhirnya semua hambatan dan rintangan dapat diatasi, sehingga terbentuklah sebuah desa yang diberi nama Gunung Condong . nama Gunung Condong ini menyesuaikan dengan letak desa yang berada di daerah perbukitan. Setelah desa dan pemerintahan kurang lebih 3 (tiga) tahun selamat dan hasil pertanian khususnya padi sudah dapat dipanen diadakan selamatan desa yang disebut Merti Desa sebagai ungkapan rasa syukur terhadap Allah SWT yang telah memberikan keselamatan dan limpahan rezeki-Nya kepada warga desa.
Sampai sekarang setiap hari Kamis Wage/Senin Wage bulan Suro/Muharram tradisi selamatan seperti yang telah kami sebutkan di atas tetap dilestarikan dan dilaksanakan oleh warga desa Gunung Condong, kegiatan ini disebut dengan Tradisi Nulaki. Diberi nama tradisi nulaki karena bertujuan untuk nulak balak dan mohon keselamatan kepada Allah SWT selama satu tahun yang akan dilalui.
B. Maksud dan tujuan dilaksanakan upacara tradisional :
Mendoakan leluhur yang telah membuka, memperjuangkan, dan memimpin desa, mohon keselamatan dan rasa syukur kepada Allah SWT .
C. Penyelenggaraan
1. Tempat Penyelenggaraan
Pada awalnya kegiatan upacara tradisional Nulaki ini dilaksanakan di Dusun Karangsari dan Dusun Krajan .Dalam perkembangannya kemudian meluas ke dusun lain
2. Waktu Penyelenggaraan :
Hari kamis Wage bulan Suro/Muharram, apabila pada bulan Suro/Muharram tahun yang bersangkutan tidaak ada hari Kamis Wage, maka upacara dilaksanakan pada hari Senin Wage.
3. Pelaksanaan dan peserta yang terlibat :
3.1. Di Dusun Krajan peserta warga Dusun Krajan
3.2. Di Dusun Karangsari peserta warga Dusun Karangsari dan warga Dusun Kepudang
3.3. Di Dusun Kemplung peserta warga Dusun Kemplung
3.4. Di Dusun Brembet peserta warga Dusun Brembet
3.5. Di Rumah Kepala Desa peserta aparat pemerintahan desa, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta kerabat/ahli waris dari mantan kepala desa Gunung Condong. Selain di tempat-tempat tersebut di atas kegiatan Nulaki juga dilaksanakan di setiap rombongan kesenian tradisional, pesertanya adalah anggota masing-masing rombongan kesenian.
3.6. Perlengkapan Upacara :
1. Satu ekor kambing tulak (kambing kendit) atau kambing berbulu hitam mulus
2. Satu ekor ayam tulak
3. Nasi tumpeng
4. 5 buah ambeng yang berisi nasi dan lauk pauk serta lodeh
5. Rujak degan, satu cangkir wedang kopi pahit, satu cangkir wedang kopi manis, satu cangkir wedang the pahit, satu cangkir wedang the manis, jenang beras berwarna putih, jenang beras berwarna merah, satu mangkuk yang berisi air putih dan 3 lembar daun dadap srep (godong tawa), 3 buah janur kuning, serta satu bungkus kembang telon ( kanthil, mawar berwarna jambon, kenanga), satu batang rokok cengkeh (kretek), satu batang rokok kemenyan, satu set kinang.
D. Jalannya upacara
1. Persiapan
Sekitar pukul 07.00 WIB dilaksanakan pemotongan kambing dan ayam yang telah disediakan, darah kambing dan darah ayam dikubur menjadi satu di tempat yang telah ditentukan. Setelah dipotong ayam langsung dibakar/panggang dilokasi tersebut. Setelah kambing dan ayam dipotong dilanjutkan kegiatan membersihkan, memperbaiki makam leluhur Desa Gunung Condong, apabila ada kerusakan di makam tersebut, kegiatan kebersihan makam yang dilaksanakan yaitu :
a. Warga Dusun Krajan membersihkan/memperbaiki makam R. Wangsajaya (pembuka sembung senggani Desa Gunung Condong), R. Kertotomo (Eyang Jayatruna atau Eyang Kebok), R.Kyai Dalem, Rr. Kemuning (Eyang Renik), Eyang Suramdiya (Eyang Ireng0.
b. Warga Dusun Kepudang membersihkan/memperbaiki makam R. Patraleksana (lurah pertama), R.Patrajaya, sebagian warga Dusun Kepudang juga membersihkan makam R. Jatimulya, Eyang Guna bersama-sama dengan warga Dusun Karngsari
c. Warga Dusun Karangsari membersihkan/memperbaiki makam R. Jatimulya, Eyang Guna
d. Warga Dusun Kemplung membersihkan/memperbaiki Makam R.Kyai Pingit
e. Warga Dusun Brebet membersihkan/memperbaiki makam Eyang Sanep.
Sedangkan makam-makam mantan lurah/Kepala Desa yang lainnya biasanya hanya dibersihkan oleh Dusun atau yang mewakili berdo’a dan menaburkan kembang telon di makam-makam tersebut.
2. Upacara Pendahuluan
a. Pembacaan nama-nama lurah/kepala desa dari yang pertama s.d. yang sedang
menjabat.
b. Penyampaian latar belakang, maksud dan tujuan dilaksanakan kegiatan Nulaki
Penyempaian arti atau maksud dari peralatan yang digunakan :
Kambing tulak dan ayam tulak maknanya adalah menolak balak;
Nasi tumpeng berbentuk kerucut bermakna hanya kepada Allah SWT kita memohon;
Wedang : gawe kadang (Jawa) artinya kita harus rukun, cangkir : nyangcang pikir artinya kita harus bisa mengendalikan hawa nafsu ;
Jenang beras warna putih bermakna bersih/suci/benar, sedangkan jenang beras warna merah bermakna berani, diharapkan warga Desa Gunung Condong harus berani menegakkan kebenaran;
5 buah ambeng melambangkan rukun Islam ada 5, waktu sholat fardu’ ada lima;
Janur kuning bermakna bahwa manusia harus tenang dalam berfikir
Kembang telon terdiri dari kanthil warna putih = suci/bersih, mawar warna merah muda = berani, kenanga warna kuning = menang/jaya artinya kalau kita mau menang harus berani bersih/berani menegakkan kebenaran
Kinang terdiri dari daun sirih, gambir, enjet artinya kalu kita mau hidup makmur kita harus bersatu
Daun dadap/tawa maksudnya agar semua marabahaya bisa tawar.
3. Puncak Acara : Mengirim do’a para leluhur desa dengan bacaan tahlil bersama
4. Mengakhiri acara : kenduri bersama-sama.
Setelah berakhirnya kegiatan upacar di setiap Dusun dilanjutkan acara di rumah Kepala Desa pada sing hari + pukul 13.00 s.d. selesai. Sekitar pukul 16.00 dilanjutkan pembagian daging kambing yang telah dimasak kepada semua warga di setiap dusun, dan semua warga harus membawa nasi golong ( nasi yang berbentuk bulat seperti bola) jumlah menyesuaikan dengan jumlah anggota keluarga masing-masing. Acara diakhiri dengan bacaan do’a tulak balak untuk memohon kepada Allah SWT agar masyarakat di jauhkan dari marabahaya dan diberi keselamatan. Walaupun tidak rutin biasanya dilanjutkan dengan hiburan yaitu pementasan Tari Lengger