Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Cerita Rakyat Carang Gesing - Purworejo, Jawa Tengah |
Caranggesing ini adalah sebuah cerita rakyat yang hidup di Purworejo, khususnya di Desa Kaligono, Kecamatan Kaligesing, Purworejo.. Cerita rakyat itu berkaitan dengan asal usul nama Kaligono dan Caranggesing.
Cerita ini ada kaitannya dengan Kerajaan Majapahit dan Blambangan yang bermusuhan. Kerajaan Majapahit mengalami kekalahan dan banyak kawula Majapahit yang melarikan diri. Salah seorang prajurit Majapahit yang lari menyelamatkan diri adalah Brajasinga beserta istri dan kedua putranya. Putra lelaki Brajasinga bersama Caranggesing dan yang putri bernama Talakbroto. Keluarga Brajasinga keluar dari wilayah kota raja Majapahit dan terus berlari mencari tempat yang aman, hingga akhirnya sampai di wilayah yang cukup subur Daerah itu berada di dekat sebuah sungai atau kali. Di wilayah tersebut sudah ada orang-orang yang bertempat tinggal dan mengolah lahan atau bekerja dari hasil kebun
Keluarga Brajasingo kemudian tinggal di wilayah baru tersebut dan membuka lahan pertanian. Di samping itu mereka juga mengolah atau membuat gula kelapa. Masyarakat desa di tepi sungai atau kali tersebut banyak yang membuat gula karena wilayah tersebut banyak tumbuh pohon kelapa. Hasil gula kelapa di wilayah tersebut cukup bangus, cairan nira yang diolah sampai cukup kental atau dalam Bahasa setempat disebut nggono. Wilayah yang sangat subur dan banyak orang membuat gula kelapa dengan cairan nira yang sangat kental atau nggono, dan berada di dekat kali, maka wilayah tersebut kemudian dikenal dengan nama Kalinggono. Wilawah tersebut sekarang masuk wilayah Kabupaten Purworejo.
Di wilayah Kaligono itulah kisah Caranggesing putra Brajasinga dimulai. Setelah keluarga Brajasinga tinggal di Kaligono, Caranggesing sebagai seorang pemuda gagah perkasa memiliki kesukaan pergi mengelilingi wilayah Kaligono dan sekitarnya dengan naik kuda. Sementara sang adik Talakbroto tumbuh menjadi gadis cantic dengan rambut yang sangat panjang, dank arena rambutya yang cukup panjang hingga kalua keramas perlu bantuan orang lain untuk memegangi rambut Talakbroto. Suatu ketika sewaktu Talakbroto selesai mandi keramas di sungai, masih banyak ikan yang tertinggal di rambut talakbroto. Sewaktu melihat hal itu Caranggesing yang baru pulang dari perjalaan mengelilingi wilayah Kaligono marah kepada adiknya karena dikira Talakbroto menerima ikan dari para pemuda yang menyukainya. Dalam kemarahannya Caranggesing memotong rambut si adik hingga pendek sekali, akibat perbuatan kakaknya Talakbrata sangat malu dan kemudian bunuh diri.
Caranggesing yang kemudian mengerti duduk perkara menjadi sangat sedih hingga tidak sadarkan diri. Dalam keadaan tersebut sang adik ‘hadir’ dan membawa pesan kalua perempuan di Kaligono tidakboleh memiliki rambut panjang dan lebih khusus lagi pada anak keturunan Brajasingo, demikian cerita Caranggesing yang menjadi memory kolektif masyarakat Kaligono, Purworejo.