Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Asal Usul Urung-urung Mangge |
Sejarah:
Mangge adalah nama suatu tempat dan dikenal sejak abad ke VII. Tempat ini hanya didiami oleh tiga kepala rumah. Hal ini disebabkan menurut kepercayaan kuno kalau di sana terdapat lebih dari tiga kepala rumah akan terjadi malapetaka. Desa ini sebelum bernama Mangge namanya Widodaren dan sekarang nama Widodaren ini dipakai sebagai nama pekuburan (makam). Mungkin yang dimakamkan di sana adalah penduduk yang berasal dari Desa Widodaren.
Desa Widodaren ini merupakan daerah dataran tinggi yang berlereng dan lembah luas dengan tanah yang subur. Namun pada musim kemarau tanahnya menjadi kering karena tidak ada irigasi.
Deskripsi:
Ki Ageng Dongos adalah seorang Kepala Desa Widodaren. Ia mempunyai dua orang putri yang cantik bernama Rr. Srikandhi dan Rr. Srikati. Desa Widodaren dibawah kepemimpinan Ki Ageng Dongos menjadi makmur, aman dan tentram. Pada suatu ketika Desa Widodaren mengalami kekeringan, sumber air di Desa Widodaren menjadi kering sehingga tanaman banyak yang mati.
Untuk mengatasi kekeringan itu Ki Ageng Dongos dengan disertai pembantu setianya Ki Potrosingo bertapa ke puncak gunung. Setelah 40 hari 40 malam bertapa maka Ki Ageng Dongos memperoleh wahyu bahwa apa yang menjadi keinginannya bisa terlaksana jika ia mengawinkan putrinya Rr. Srikandhi. Untuk itu Ki Ageng Dongos membuat sayembara barang siapa dapat membuat saluran air dan mengalirkan air Sungai Golok ke Desa Widodaren dalam waktu satu malam dan selesai sebelum fajar menyingsing akan dikawinkan dengan Rr. Srikandhi.
Setelah memperoleh wahyu Ki Ageng Dongos berganti nama Ki Ageng Mangge dan tempat ia memperoleh wahyu itu dinamakan Gunung Mangge. Selanjutnya nama Desa Widodaren diganti namanya menjadi Desa Mangge. Setibanya di rumah Ki Ageng Dongos menceritakan semua peristiwa yang dialaminya sampai memperoleh wahyu kepada istri dan kedua putrinya. Kecuali itu Ki Ageng Dongos juga mengatakan bahwa namanya bukan lagi Ki Ageng Dongos tetapi Ki Ageng Mangge.
Ki Ageng Mangge mempunyai saudara sepupu bernama Ki Joko Dolok seorang yang sakti, tubuhnya besar seperti raksasa dan masih jejaka. Ki Joko Dolok mempunyai murid bernama Ki Bancolo dan Ki Rujak Beling. Ki Joko Dolok ini tinggal di Dukuh Jurang Abang tepi Sungai Galok sebelah Barat Gunung Mangge.
Sayembara tersebut terdengar oleh Ko Joko Dolok dan akan mengikuti sayembara tadi. Dengan didampingi kedua muridnya Ki Bancolo dan Ki Rujak Beling menghadap Ki Ageng Mangge untuk mengikuti sayembara. Rr. Srikandhi tahu kalau Ki Joko Dolok akan mengikuti sayembara dan tahu kalau Ki Joko Dolok itu sakti. Oleh karena itu ia bersumpah tidak mau menikah dengan Ki Joko Dolok karena rupanya jelek seperti raksasa.
Pada hari yang telah ditentukan, Ki Joko Dolok mengikuti sayembara membuat saluran air (urung-urung) dari Sungai Galok ke Desa Mangge yang letaknya lebih tinggi. Sebelum melaksanakan tugasnya membuat saluran air Ki Joko Dolok berdoa lebih dahulu. Setelah selesai berdoa Ki Joko Dolok mulai melakukan pekerjaannya. Tebing sungai yang keras itu dapat dikeduk dan ditekan ke kanan dan ke kiri dengan jari dan telapak tangannya, sehingga menimbulkan bekas-bekas pada dinding terowongan. Pada saat ia melaksanakan pekerjaannya itu maka air sungai masuk ke dalam terowongan sehingga ia mengalami kesulitan untuk melanjutnkan pekerjaannya. Untuk mengurangi air yang menggenang itu, dibuatnya terowongan yang lain. Terowongan ini disebut Terowongan Tumang.
Sementara itu Rr. Srikandhi yang menyaksikan pekerjaan Ki Joko Dolog cemas dan khawatir kalau pekerjaan itu akan dapat selesai dalam waktu seperti yang menjadi ketentraman sayembara. Hal ini disebabkan Rr. Srikandhi tahu kalau Ki Joko sangat sakti. Oleh karena itu Rr. Srikandhi yang tidak mau menikah dengan Ki Joko Dolok mencari akal bagaimana caranya untuk menggagalkan usaha Ki Joko Dolok. Rr.Srikandhi kemudian mengumpulkan gadis-gadis desa agar mau membantunya untuk menggagalkan pekerjaan Ki Joko Dolok. Para gadis desa diperintahkan untuk menyalakan lampu minyak untuk menerangi kandang ayam, sehingga dengan demikian ayam jantan yang melihat sinar lampu itu akan berkokok, sebab dikiranya hari sudah fajar.
Mendengar kokok ayam jantan itu, Ki Joko Dolok berhenti sejenak dari pekerjaannya. Ia ragu apakah hari sudah menjelang pagi. Untuk membuktikan keragu-raguannya Ki Joko Dolok membuat terowongan ke atas. Sesampainya di atas ia tidak ragu lagi bahwa hari masih malam, maka kembalilah Ki Joko Dolok melanjutkan pekerjaannya. Terowongan ini dinamakan "Jembatan Tunggul Naga", karena payung kebesarannya Ki Joko Dolok yang bernama "Tunggul Naga", tertancap di situ.
Sedang asyiknya melanjutkan pekerjaannya itu terdengar lagi kokok ayam jantan. Kembali ia membuat terowongan ke atas untuk membuktikan bahwa hari masih malam. Setelah Ki Joko Dolok melihat ke atas ternyata masih gelap, maka ia kembali lagi melanjutkan pekerjaan semula. Terowongan ini kemudian diberi nama "Jebolan Prapatan". Hal ini disebabkan di bawah terowongan terdapat perempatan yang menghubungkan puncak Gunung Mangge dan Kedung Kandreman.
Sementara itu setelah Ki Joko Dolok melanjutkan pekerjannya, terdengar olehnya ayam jantan ramai berkokok saling bersahutan dan penduduk desa ramai melakukan aktivitasnya. Mendengar itu semua, ia kembali ingin melihat ke luar dengan cara membuat terowongan lagi. Setelah melihat kenyataan yang ada di luar bahwa hari memang sudah pagi, maka sadarlah ia akan dirinya yang ditipu oleh Rr. Srikandhi agar usaha untuk membuat saluran (urung-urung) gagal.
Menyadari bahwa dirinya ditipu maka marahlah Ki Joko Dolok. Amarahnya itu dilampiaskan dengan menyebar ayam-ayam yang kebetulan berkeliaran di dekatnya dan berhasil ditangkap dimasukkan ke dalam terowongan. Oleh sebab itu terowongan ini dinamakan "Jebolan pitik".
Kemudian Ki Joko Dolok melanjutkan pekerjaannya lagi. Ajan tetapi setelah terowongan tembus selesai dibuat dan air telah mengalir keluar seperti banjir disertai keluarnya Ki Joko Dolok , betul-betul hari telah pagi dan mataharipun telah terbit. Ki Joko Dolok marah besar dan kemarahannya ditujukan kepada gadis-gadis penumbuk padi. Ia mengambil lumpur dan dikepalkan kemudian dilemparkan kepada gadis-gadis itu. Lemparan itu tidak mengenai sasaran tetapi meleset mengenai dinding terowongan di sebelah luar. Oleh sebab itu kepalan tanah liat yang dibuat Ki Joko Dolok menempel pada dinding tersebut dan sampai sekarang dinamakan "Selo Gumuling". Belum puas dengan kemarahannya itu ia mengutuk gadis-gadis Desa Mangge bahwa kalau belum sampai ubanen gadis-gadis Desa Mangge tidak laku kawin. Disamping itu orang Desa Mangge tidak boleh membuat lesung, kentongan dan lumpang dari kayu.Begitulah kutukan-kutukan itu sampai sekarang orang desa setempat membuat lesung, kentongan, lumpang dari bahan batu.
Merasa telah memenuhi ketentuan sayembara maka Ki Joko Dolok menghadap Ki Ageng Mangge dengan membawa srah-srahan dan seterusnya minta dikawinkan dengan Rr. Srikandhi. Hal ini ditolak oleh Ki Ageng Mangge karena Ki Joko Dolok meskipun telah selesai membuat terowongan, tetapi waktunya tidak tepat. Oleh karena itu terjadilah perselisihan dan akhirnya terjadi adu phisik. Dalam pertengkaran phisik ini Ki Ageng Mangge kalah dan ia bersama isteri dan Rr. Srikandhi melarikan diri. Melihat Ki Ageng Mangge melarikan diri maka Ki Joko Dolok mengejarnya. Tempat peristiwa itu dinamakan "Melajar" dan tempat pertengkaran itu dinamakan "Desa Gegeran".
Akhirnya Ki Joko Dolok sadar bahwa tindakannya itu salah hanya mementingkan dirinya sendiri. Untuk itu ia bertekad mencari Ki Ageng Mangge untuk memohon maaf. Agar usaha mencari Ki Ageng Mangge berhasil maka Ki Joko Dolok mengubah dirinya menjadi seorang ksatria yang tampan dan namanya diubah menjadi Ki Ageng Mangli. Sementara itu Ki Ageng Mangge, istri dan Rr Srikandhi yang tahu kalau dirinya dicari oleh Ki Ageng Mangli, mereka kemudian terjun ke sebuah kedung. Kedung ini dinamakan "Kedung Kandreman". Setelah lama ditunggu oleh Ki Ageng Mangli, mereka tidak muncul maka Ki Ageng Manglipun akhirnya ikut terjun ke dalam kedung itu. Mereka semua menjadi makhluk halus yang menunggu Kedung Kandreman.
Oleh karena mereka telah menjadi makhluk halus, maka oleh Ki Ageng Mangge, Ki Ageng Mangli disarankan untuk membuat istana di dasar Gunung Mangge. Atas saran tersebut Ki Ageng Mangli membuat istana Gunung Mangge yang menembus jalan terowongan dari Kedung Kandreman ke puncak Gunung Mangge. Adapun yang menjaga keamanan Gunung Mangge adalah Ki Bancolo yang menjadi gendruwo dan menjaga sebelah Selatan Gunung Mangge; Ki Rujak Beling menjaga sebelah Barat Gunung Mangge dan Ki Potrosingo yang menjaga di sebelah Utara Gunung Mangge.
Demikianlah cerita rakyat tentang asal-usul urung-Urung Mangge.