Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Bedhaya Suryosumirat - Surakarta, Jawa Tengah |
Tari Bedhaya Suryosumirat tercipta di masa pemerintahan Mangkunagara IX. Tari tersebut terwujud atas ide Drs. Soelistiyo S. Tirtokoesoemo bersama pakar karawitan dari STSI Surakarta DR. Sri Hastanto. Bedhaya Suryosumirat untuk pertama kali dipergelarkan dalam rangka Boyong Dalem pernikahan agung K.G.P.A. Mangkunagara IX dengan Raden Ayu Marina, pada tanggal 7 Juli 1990 di Pura Mangkunagaran.
Tari Bedhaya Suryosumirat menggambarkan perjuangan Pangeran Sambernyawa melawan Belanda dan berakhir dengan komitmen beliau untuk selalu mendampingi Sri Susuhunan Paku Buwana III dalam menjalankan pemerintahan di Keraton Kasunanan Surakarta. Dalam perjuangan tersebut, Pangeran Sambernyawa dibantu oleh Raden Kudanawarsa dan Rangga Panambangan selaku Punggawa Baku. Ikatan batin antara Mangkunagara I dan Punggawa Baku terjalin sangat erat dan tercermin dalam motto perjuangannya: Tiji Tibeh, Mukti Siji Mukti Kabeh, Mati Siji Mati Kabeh.
Dasar pemikiran penciptaan Tari Bedhaya Suryosumirat antara lain berupa keinginan tetap menjaga api semangat perjuangan Pangeran Sambernyawa sebagai pahlawan nasional, menghapus asumsi tentang adanya perbedaan penggunaan jumlah penari bedhaya pada pemerintahan yang berbentuk kadipaten dan kraton, karena tidak relevan lagi untuk masa kini. Dari sisi bentuk penyajian, Tari Bedhaya Suryosumirat memiliki ciri khusus yaitu: ragam gerak pada tari ini mengacu pada ragam gerak Tari Srimpi Pandhelori, Bedhaya Bedhah Madiun dan Bedhaya Anglirmendhung.
Bedhaya Suryosumirat ditarikan oleh penari putri yang berjumlah sembilan orang dengan rias dan busana kembar. Ciri khas busananya terletak pada penggunaan slempang dengan lambang matahari berwarna hijau dan kuning (pareanom), serta jamang bedhaya yang bermotif Cirebon. Iringan tarinya menggunakan gamelan Kyai Udan Asih Udan Arum dan Kyai Kenyut Mesem yang dipadukan alat musik tambur dan genderang. Pola lantai yang menunjukkna kisah perjuangan Pangeran Sambernyawa terletak pada rakit gelar, rakit pistolan, dan rakit lumbungan. Adapun properti yang digunakan adalah tiruan senjata lantak atau pistol.