Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Batik Tulis Bakaran Wetan |
Sejarah:
Sejarah batik bakaran terkait erat dengan kisah Nyai Danowati atau Nyai Ageng Siti sabirah, penjaga pusaka dan pengusur seragam Kerajaan Majapahit akhir abad ke-14. Ia datang ke Desa bakaran untuk mencari tempat persembunyian karena dikejar-kejar prajurit Kerajaan Demak. Dalam penyamarannya di Desa-Bakaran, Nyi Danowati membuat lenggar tanpa mihrab yang disebut sigit. Nyi Danowat di Sigit membuat batik dengan pewarnaan alami. Banyak penduduk bakaran yang belajar membatik pada Nyi Danowati.
Salah satu penduduk Bakaran yang mengembangkan batik adalah Mbah Gabuk pada tahun 1820-an. Keturunana selanjutnya adalah Mbah Semi. Keturunan Mbah Semi adalah Supadmi. Supadmi mempunyai anak Sutarsih. Masa sekarang yang tetap eksis adalah Bukhari Wiryosatmoko, putra dari Sutarsih dengan nama produksi batik Tulis Tjokro. "Tjokro" diambil dari nama kakek buyutnya Turiman Tjokrosatmoko.
Deskripsi:
Batik tulis Tjokro, satu-satunya produsen batik yang masih eksis sampai sekarang di Bakaran Wetan. Bukhari selaku penerus batik di Bakaran Wetan selaku pemiliknya telah mendapat penghargaan oleh Presiden RI, Susilo Bambang Yudoyono di Istana negara pada tanggal 1 Januari 2009 di Bidang Rintisan Teknologi Industri dan IDGS tahun 2008.
Penghargaan tersebut terkait erat dengan usaha Bukhari yang melestarikan batik khas Bakaran Wetan. Batik Bakaran Wetan yang pernah tutup, dibuka kembali dan dikembangkan sampai saat ini. usahanya merupakan home industry dengan mempeekerjakan penduduk sekitar. Bapak dan ibu-ibu di sela-sela waktu luang ikut terlibat dlam produksi batik tersebut. Ada 63 pekerja di rumah masing-masing dan 8 pegawai yang bertugas sebagai finising.
Batik Tulis Tjokro memproduksi motif bakaran asli maupun kontemporer kreasi bukhari yang mengikuti trend yang sedang berkembang di masyarakat. Motif lama adalah Sekar Jagad, gandrung, Padas gempal, Magel Ati, Limaran, Ungker, cantel, Nopgorojo, Gringsing, Manggaran, Gandrung, Sidorukun, Namtikan, Kawung Tanjung, Kopi Pecah, Kedele Kecer, Loek Chan, Puspo baskara, Blebak Lung, Rawan, Merak Ngigel. Selain batik tulis, "Tjokro" juga memproduksi batik cap. Harga tergantung motif dan kualitasnya. Batik tulis motif lama dikerjakan selama 1 bulan sehingga harganya dari 400-an ribu sampai jutaan, sedangka batik tulis motif baru, harganya dari 120-an ribu sampai 200 ribu. Batik cap harganya 85 ribu rupiah.