Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Cerita Nyai Ageng Ngerang |
Deskripsi:
Dalam kegiatannya menyebarkan agama Islam, sampailah di wilayah Pati Kidul yang sekarang dinamakan Dusun Ngerang. Beliau membangun masjid dan tempat tinggal sebagai sarana untuk berdakwah yang sekarang letaknya disebelah utara makam beliau. Perjuangan beliau selalu dikenang dan diperingati pada tanggal 1 Muharram setiap tahunnya sebagai haul beliau. Di setiap berdakwah, ia selalu naik kuda yang disebut Jaran Sembrani. Masyarakat pada waktu itu tidak diperbolehkan memelihara kuda, karena dianggap menandingi beliau.
Kekeramatan beliau ditunjukkan dengan peliharaan beliau berupa harimau. Di setiap haul, harimau tersebut kerap datang bersama kerumunan orang banyak ikut kirap luwur. Kekeramatan lainnya, beliau merupakan pewaris Sendang widodari dari neneknya, Nawang Wulan, dan slendang kemben yang dapat membentuk tanah atau bumi Ngerang. Beliau juga berhasil mengalahkan segerombolan banteng yang mengamuk dan merusak tanaman petrtanian. Banteng berhasil ditundukkan dan diberi minum air dari Sendang Putih. SEndang Putih sekarang terletak di Dusun Mojomulyo, Tambakromo. Sawah/tempat dimana beliau mengalahkan banteng, dinamakan sawah bantengan. Sedangkan sendang tersebutn dipercaya orang dapat dijadikan obat penyembuh segala penyakit.
Nyai Ageng Ngerang dalam perjalanannya selalu diikuti angin dengan suaranya yang gemuruh. Beliau dapat mencegah dan mendatangkan angin. Karak/nasi khusus yang telah didoakan di makam Nyai Ageng Ngerang dipercaya orang membawa berkah dan manfaat, antara lain untuk pengobatan dan kelancaran usaha, bahkan bisa digunakan untuk tolak bala.
Keberadaan beliau terkait erat dengan tempat yang bernama Punthuk dan Muludan. Penthuk merupakan tempat bertapa, meditasi dan munajaf beliau terhadap Allah SWT. Karena kekuatan mistisnya menjadikan tempat tersebut tidak ada tumbuhan yang bersemi dan berkembang. Muludan merupakan tempat bekas masjid dan padepokan beliau. Kemistisan tempat tersebut ditandai dengan muatnya tempat tersebut untuk menampung seluruh warga Dusun Ngerang ketika mengadakan ritual sedekah bumi, padahal luasnya hanya + 10 m2. Kemistisan disebabkan pengaruh dari beliau yang selalu melantunkan sholawat dan pembacaan Maulud Nabi MUhammad SAW di tempat tersebut.
Sejarah:
Nyai Ageng Ngerang dikenal sebagai tokoh penyebar agama Islam di Pati khususnya di Dusun Ngerang. Dia merupakan keturunan Raja Brawijaya V, Prabu Kertabumi dari Majapahit. Raja Brawijaya V menurunkan Raden Bondan Kejawan, seorang Lembu Peteng. Raden Bondan Kejawan beristrikan Dewi Nawangsih (anak Dewi Nawangwulan dan Ki Jaka Tarub atau Kidang Telangkas). Raden Bondan Kejawan berputra tiga yaitu Ki Ageng Wanasaba, Ki Ageng Getas Pandawa, dan Nyai Ageng Ngerang. Nama asli Nyai Ageng Ngerang adalah Siti Rohmah Roro Kasihan. dinamakan Nyai Ageng Ngerang karena beliau merupakan cikal bakal Dusun Ngerang.
Kata Ngerang, ada beberapa versi. Versi menurut sesepuh Dusun Ngerang, kata Ngerang berasal dari kata sliweran dan pating kliwerran. Ketika beliau berdakwah dan menempati dusun, banyak dhemit yang mondar-mandir atau sliweran atau pating sliweran. Dhemit tersebut mengganggu kekhusukan beribadah warganya. Dhemit tersebut berhasil diusirnya, oleh karena itu dusun tersebut dinamakan Dusun Ngerang. Sebagai cikal bakal dusun tersebut makam Nyai Ageng Ngerang juga terdapat di dusun tersebut