Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Bedhaya Anglirmendhung - Surakarta Jawa Tengah |
Bedhaya Anglirmendhung merupakan suatu tarian yang sangat keramat milik Pura Mangkunagaran. Tari bedhaya tersebut telah ada sejak masa Mangkunagara I, meskipun kemudian pada masa pemerintahan Mangkunagara II dan Mangkunagara III Bedhaya Anglirmendhung tidak dimunculkan, namun pada masa Mangkunagara IV dan Mangkunagara V, Bedhaya Anglirmendhung kembali tumbuh dan berkembang hingga mencapai kejayaan.
Rekonstruksi atau penggalian terhadap Tari Bedhaya Anglirmendhung pada tahun 1981 merupakan peristiwa penting dalam kehidupan seni tari di masa pemerintahan K.G.P.A.A. Mangkunagara VIII. Pelacak dan pelaku rekonstruksi Tari Bedhaya Anglirmendhung dikoordinir oleh R.Ay. Praptini Partaningrat. Informasi tentang Tari Bedhaya Anglirmendhung sebagai milik Mangkunagaran berdasarkan tulisan Brajamilih (informasi dari Moelyono Sastranaryatmo), sedangkan seniman yang merekonstruksi adalah Suciati Joko Suharjo dan Sunarno.
Kembalinya Bedhaya Anglirmendhung merupakan inisiatif Mangkunagara VIII guna mengukuhkan kembali tari tersebut menjadi pusaka Pura Mangkunagaran. Tari Bedhaya Anglirmendhung yang dipentaskan dalam upacara penyerahan Bintang Maha Putra Adi Pradana Kelas I dan gelar Pahlawan Nasional bagi Mangkunagara I di Pura Mangkunagaran pada tanggal 8 November 1988. Tari Bedhaya Anglirmendhung pada saat itu dibawakan oleh 7 orang penari. Seniman yang dipercaya untuk merekonstruksi Bedhaya Anglirmendhung yang ditarikan oleh 7 penari adalah S. Ngaliman Condropangrawit, sedangkan gendhingnya terutama bagian Ketawang Mijil Asri dikerjakan oleh R.Ng. Martopangrawit. Sejak saat itu dan hingga sekarang, Tari Bedhaya Anglirmendhung ditarikan oleh 7 orang penari.
Bedhaya Anglirmendhung merupakan tari sakral Pura Mangkunagaran sehingga pada setiap pementasannya harus disertai dengan sesaji Ketawang Alit, yang terdiri dari: ketan beras, enten-enten, jajan pasar, bekakak, sekul megana, sekul golong, sekar setaman, sekar uteran (wungun kuluk). Sekar uteran terdiri dari bunga kantil, kenanga, melati, mawar merah, dan mawar putih. Petugas yang menghunjukkan sesaji adalah lurah abdi dalem yang paling tinggi pangkatnya dan memakai dodot serta gelung ukel.
Kesakralan tampak juga dalam proses penampilan tari. Sebelum tarian dipentaskan, para penari harus mendengarkan doa (uluk-uluk) yang dilantunkan oleh lurah tarinya. Tembang berisi doa yang dilantunkan merupakan tembang Dandhang Gula. Gendhing Bedhaya Anglirmendhung dibagi menjadi dua, yaitu Gendhing Kemanak dan Mijil. Guna mengembalikan Bedhaya Anglirmendhung sesuai aslinya maka jumlah penari dikembalikan menjadi 4 orang, setelah sempat ditarikan oleh 3 orang.