Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaTradisi Meron Di Sukolilo
Sejarah: Tradisi Meron yang diadakan masyarakat Sukolilo untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW (Maulud Nabi) Tradisi ini menurut cerita yang berkembang di masyarakat terkait erat dengan sekaten di Kerajaan Mataram. Kerajaan Mataram dan Pesantenan (Pati) mempunyai hubungan kekerabatan yang baik. Keduanya sepakat mengembangkan Islam yang subur dan menentang setiap pengaruh asing. Banyak pendekar sakti Mataram yang berada di Pesantenan untuk melatih keprajuritan. Mereka tinggal di Pesantenan berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Ki Suro Kerta, demang Sukolilo merupakan keturunan Mataram dari kakek dan ayahnya. Ki Sura Kerta mempunyai saudara yang bernama Ki Sura Kadam. Ki Sura Kadam berkeinginan mengabdikan diri ke Mataram. Dalam perjalanannya menuju Mataram, ketika sedang bersiap menghadap sultan, terjadi keributan. Seekor gajah mengamuk bahkan menewaskan srati (perawat)nya. Ki sura Kadam berhasil menjinakkan gajah tersebut dan menungganginya. Kemudian dia diangkat menjadi punggawa kerajaan yang bertugas mengurus gajah. Singkat cerita, Ki Sura Kadam diperintahkan Sultan untuk memimpin pasukan menaklukkan Kadipaten Pesantenan. Setelah perang usai, Ki Sura Kadam menjenguk saudaranya di Kademangan Sukolilo. Demang Sura Kerto terperanjat dan ketakutan, sepertinya mau diringkus dan ditangkap. Sura Kadam kemudian menjelaskan kedatngannya untuk menyambung tali persaudaraan. Dia meminta ijin, supaya prajurit diijinkan menginap di kademangan Sukolilo sambil menunggu saat tepat untuk kembali ke Mataram. Karena bertepatan dengan Maulud Nabi, Ki Sura Kadam mengusulkan mengadakan semacam sekaten seperti halnya di Kerajaan Mataram, untuk menghormati Maulud Nabi dan memberi hiburan pada rakyat. Mereka membuat keramaian semacam sekaten. Rakyat menyambutnya dengan gembira, karena itulah keramaian itu disebut meron yang berasal dari bahasa Jawa rame dan iron-iron-tiruan. Deskripsi: Upacara Meron dilakukan masyarakat Sukolilo setiap tanggal 13 Rabiulawal tahun Hijriyah. Perayaan Meron terkait erat dengan keberadaan gunungan. Gunungan terbuat dari beberapa jenis makanan yang terbuat dari beras ketan yang disusun tiga tingkatan seperti gunung. Makanan tersebut antara lain: Cucur, once dan ampyang. Prosesi Meron diawali dengan arak-arakan warga yang membawa 13 gunungan menuju halaman Masjid Baitul Yaqin, Desa Sukolilo. Sebelum diarak, para perangkat desa, ketua panitia penyelanggara telah mempersiapkan gunungan sejak satu bulan yang lalu. Membuat makanan harus penuh kesabaran. Sebelum berbentuk tiga jenis makanan, beras ketan diolah terlebih dahulu. Setelah melalui proses pemasakan, makanan tersebut dijemur hingga mengering. Waktu penjemuran + 7 hari (1 Minggu). Gunungan dibuat oleh perangkat desa dengan dibantu tetangga sekitarnya. Beras ketan yang digunakan dalam satu gunungan 670 kg-1 kwintal. Gunungan berdiameter + 2 m dan tingginya 5 meter. Semua perangkat desa membuat gunungan karena ada 13 perangkat desa di Sukolilo maka ada 13 gunungan. Prosesi Meron baru dimulai setelah sholat Dzuhur. selain didoakan, dalam upacara Meron juga dibacakan sejarah penyelenggaraan Meron yang pertama kali dilakukan sejumlah abdi dalem Mataram di Pati. Gunungan yang diarak menuju masjid Baitul Yaqin Desa Sukolilo, sesampainya lima hari perayaan Meron selesai, baru dibagi-bagikan kepada tetangga perangkat desa.