Sejarah:
Ritual Jamasan Pusaka berupa tombak Kyai Manggolo Murti dan Songsong Kyai Manggolo Dewo pemberian Kraton Yogyakarta. Adanya pusaka ini bermula karena daerah Suroloyo dahulu menjadi tempat pertapaan Sultan Agung raja terbesar Kerajaan Mataram Islam. Sultan Agung bertapa di puncak Suroloyo yang diyakini sebagai kiblat papat pancering bumi di tanah Jawa. Masyarakat Jawa juga percaya jika ditarik garis lurus dari utara ke selatan dan dari barat ke timur di atas pulau Jawa, maka akan bertemu di puncak Suroloyo.
Pertapaan yang ada bernama Suroloyo, Sariloyo dan Kaedran. Pertapaan Suroloyo berupa sebidang tanah datar berukuran 7 meter X 15 meter, yang diyakini sebagai pertapaan Sultan Agung.
Deskripsi:
Ritual Jamasan Pusaka dilakukan setiap tanggal 1 Suro. Pusaka Tombak Kyai Manggolo Murti dan Songsong Kyai Manggolo Dewo dijamasi di Sendang Kawidodaren yang terletak +/- 300 meter disebelah selatan puncak Suroloyo. Kedua pusaka disimpan oleh sesepuh Dusun Keceme, Mbah Hadi Wiharjo. Dari rumah sesepuh ini upacara dimulai dengan mengarak pusaka ke Sendang Kawidodaren. Arak-arakan diiringi sesaji berupa gunungan hasil bumi dan musik tradisional. Di Sendang Kawidodaren pusaka dijamasi (dimandikan). Selesai jamasan gunungan yang dibuat dari hasil bumi diperebutkan sebagai udik-udik. Para pengunjung yang berhasil memperoleh hasil bumi itu percaya mereka akan menapatkan berkah dari Tuhan yang Maha Esa dengan hasil pertanian yang melimpah.