Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Wayang Beber DIY |
Sejarah:
Wayang Beber tumbuh dan kahir dari keraton, terbukti dari ornamennya yang halus dan ditambahi perada emas. Pertunjukan Wayang Beber lalu menjadi prosesi ritual dalam perjalanan hidup manusia, mulai dari hajatan nikah, tingkeban, kelahiran khitanan, kematian.
Generasi terdahulu menganggap pertunjukan Wayang Beber sebagai ritus, yang didahului dan diakhiri doa-doa, kenduri dan srah-srahan.
Rumitnya prosesi pementasan Wayang Beber membuat kesenian tradisional ini semakin jarang ditampilkan. Pembuatan Wayang Beber sendiri sangat sulit sehingga di Gunung Kidul hanya ada satu set Wayang Beber yang dipentaskan saat-saat tertentu. Oleh orang-orang tertentu. Wayang Beber yang ada di gelaran ini milik ibu Rubinem.
Sejarah kelahiran Wayang Beber terkait dengan keberadaan Kerajaan Majapahit, tepatnya Raja Bratana. Pada saat itu pertunjukan Wayang Beber menggunakan iringan gamelan di luar istana hanya diiringi rebab.
Deskripsi :
Bentuk fisik Wayang Beber berupa lukisan pada sebuah lembaran kain mirip kain kanvas dengan ukuran panjang +/- 2,5 meter dan lebar 70 cm. Kain itu dibuat dari lulup, semacam serat yang diambil dari batang pohon melinjo atau waru. Salah satu kisah Wayang Beber adalah cerita perjalanan asmara Panji Asmarabangun dengan Dewi Dandrakirana pada jaman kerajaan Jenggala/Kediri.
Disebut Wayang Beber karena dalam menampilkan atau mementaskannya harus membuka gulungan lembaran (dibeber: jawa), sehingga cara itu melekat menjadi nama Wayang Beber. Setelah gulungan dibentangkan dan tampak lukisannya barulah dalang mengisahkan apa yang ada dalam gambar, lembar demi lembar sampai selesai. Setelah selesai pentas, lembaran digulung kembali dan disimpan dalam kotak penyimpanan.