Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaSeni Calung
Awalnya kesenian yang sudah ada sejak tahun 1700 ini digunakan untuk mengusir mahluk halus atau orang-orang jahat di sekitar waduk Mahalayu yang sering memakan korban. Orang-orang desa setempat dulunya menggunakan kentongan untuk mengusir makhluk tersebut (tolak bala). Makin lama melodi untuk menolak bala itu mulai berkembang dan akhirnya nada-nada yang dihasilkan dari kentongan disesuaikan. Bunyi kentongan yang diatur dinamakan “calung”. Seiring dengan perkembangan jaman calung mulai dilengkapi dengan gamelan jawa dalam laras degung, dan juga ditambah gong, kendang dan seruling. Unsur vocal juga ditambahkan dalam seni tradisional Calung. Dengan memasukan sinden pria Brebes atau Sunda. Sejak tahun 1970-an, calung yang tadinya hanya dikenal sebagai lagu rakyat bergeser menjadi lagu iringan tari-tarian. Fenomena itu banyak dijumpai di Brebes barat daya. Calung sekarang tidak lagi digunakan untuk penolak bala saja. Aktivitas-aktivitas sosial macam ronda keliling juga menggunakan calung. Tema syair-nya juga mulai berubah, tema yang digunakan sekarang lebih bersifat edukatif, informatif, dan hiburan. Untuk hiburan calung biasanya digunakan atau dimainkan saat panen, acara perkawinan, atau sunatan. Jumlah pemain Calung dulunya minimal dimainkan 4 orang dan maksimalnya 9 orang. Sekarang calung dimainkan minimal 7 orang dan maksimal 14 orang. Para penari pria memakai ikat kepala, celana komprang, baju berwarna hitam, sabuk, kopel besar, dan kain sarung yang diikatkan di pinggang. Untuk perempuan, mereka memakai gelung dengan rangkaiannya, kebaya, dan kain tanggung setengah betis, sampur sebagai ikat pinggang dan juga perhiasan. Tari calung menggambarkan gerakan para peronda yang selalu waspada dan sigap dalam mengemban tugas mereka. Jika merasakan ada sesuatu yang tidak aman, para peronda berhenti menari lalu memukul kentongan sambil berdendang. Lirik-lirik lagu yang disuarakan penyanyi pria menggugah para gadis untuk menimpali. Maka terjadilah sahut-sahutan antara penari calung pria dan wanita. Para peronda selalu menari lincah, seolah membayangkan para gadis ikut menari bersama mereka.