Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Tradisi Hari Raya Ketupat (Kupatan) |
Sejarah singkat:
Tradisi Hari Raya Ketupat atau lazim dikenal "Kupatan", awal mulanya berasal dari kebiasaan seorang ulama yang tinggal di Durenan sekitar abad 19 saat itu setelah melaksanakan sholat Ied, mereka saling bersilaturahmi di antara warga Durenan tersebut.
Lepas tanggal 1 Syawal mereka ini (warga Durenan) melaksanakan puasa "sunnah" enam hari, yang dimulai dari tanggal 2 - 7 syawal.
Usai melaksanakan puasa sunnah tersebut padahari ke 7 mereka mengadakan perayaan ketupat atau lazim disebut dengan "Bada ketupat" atau "kupatan".
Pada perayaan hari Ketupat itu seluruh warga Durenan saling kujung mengunjungi layaknya seperti Hari Raya Iedul Fitri.
Deskripsi:
Perayaan ketupat di Durenan
Setelah 1 hari di hari puasa sunnah / 1 syawal selama 6 hari terus di akhiri dengan makan ketupat.
Masing-masing rumah membuat katupat / lontong dengan ringkaian sayur nangka muda dimasak kare dimasuki ayam (jadi satu) atau ayam lodo.
- Ada bubukan kedelai
Bumubu krawu → kelapa diparut di bumubu pedas → di kukus di bungkus daun pisang.
Orang datang dari rumah kerumah, untuk silaturahmi, salam-salaman saling minta maaf lalu diwajibkan makan.
Selama 1 hari, yang datang tetangga, keluarga, handai tolan, bahkan dari daerah luar seperti : Tulungagung, Ponorogo, Blitar dan Surabaya.